Bulan Purnama Stroberi Hiasi Langit Akhir Juni, Ini Penjelasan Ilmiah dan Waktu Terbaik Mengamatinya!
HAIJAKARTA.ID- Fenomena Bulan Purnama Stroberi (Strawberry Moon) kembali menghiasi langit pada penghujung Juni 2026.
Meski namanya identik dengan buah stroberi, fenomena ini sama sekali tidak membuat bulan berubah menjadi merah muda.
Sebutan tersebut berasal dari tradisi masyarakat adat di Amerika Utara yang menggunakan bulan purnama bulan Juni sebagai penanda dimulainya musim panen stroberi.
Tahun ini, Bulan Stroberi menjadi salah satu fenomena astronomi yang menarik perhatian para pengamat langit karena posisinya tampak sangat rendah di atas cakrawala, khususnya bagi wilayah Belahan Bumi Utara.
Posisi tersebut membuat bulan terlihat lebih besar saat pertama kali terbit, meski sebenarnya ukuran bulan tidak mengalami perubahan.
Mengapa Bulan Terlihat Lebih Rendah?
Secara astronomis, posisi Bulan Stroberi dipengaruhi oleh letak Matahari yang berada di titik paling utara langit pada akhir Juni.
Karena bulan purnama selalu berada di sisi langit yang berlawanan dengan Matahari, maka bulan tampak berada jauh di selatan sehingga lintasannya melintasi langit terlihat lebih rendah dari biasanya.
Fenomena ini juga memunculkan moon illusion, yaitu ilusi optik yang membuat bulan tampak jauh lebih besar ketika berada dekat cakrawala.
Para astronom menjelaskan bahwa ukuran bulan sebenarnya tetap sama, namun persepsi mata manusia membuatnya terlihat lebih besar dibandingkan ketika bulan sudah berada tinggi di langit.
Warna Jingga Hanya Bertahan Beberapa Menit
Selain tampak besar, Bulan Stroberi juga sering terlihat berwarna jingga hingga kemerahan sesaat setelah terbit.
Warna tersebut muncul akibat hamburan cahaya oleh atmosfer Bumi ketika cahaya bulan melewati lapisan udara yang lebih tebal di dekat cakrawala.
Fenomena warna jingga ini umumnya hanya berlangsung sekitar 20–30 menit. Setelah bulan naik lebih tinggi, warnanya akan kembali tampak putih terang seperti bulan purnama pada umumnya.
Tahun Ini Berbeda dengan Tahun Lalu
Bulan Stroberi pada 2026 tidak seekstrem tahun sebelumnya. Pada 2025, bulan purnama bertepatan dengan major lunar standstill, yaitu siklus astronomi yang terjadi sekitar setiap 18,6 tahun ketika posisi terbit dan terbenam Bulan mencapai titik paling ekstrem.
Menurut para astronom, fenomena major lunar standstill berikutnya baru akan kembali terjadi pada dekade 2040-an.
Waktu Terbaik Mengamati
Pengamat langit disarankan memilih lokasi yang memiliki pandangan bebas ke arah cakrawala timur atau tenggara, seperti kawasan pantai, lapangan terbuka, persawahan, maupun puncak bukit.
Momen terbaik untuk menikmati Bulan Stroberi adalah sesaat setelah bulan terbit pada waktu senja.
Selain dapat melihat warna jingga yang khas, pengamat juga berpeluang memperoleh hasil fotografi terbaik karena bulan masih berada dekat cakrawala.
Fenomena Langit Lainnya
Tidak hanya Bulan Stroberi, langit akhir Juni hingga awal Juli juga menyuguhkan sejumlah objek astronomi menarik. Bintang merah Antares, bintang paling terang di rasi Scorpius, tampak jelas pada malam hari.
Sementara itu, planet Mars terlihat berada cukup dekat dengan gugusan bintang Pleiades (M45) menjelang fajar, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta astronomi.
Para astronom mengimbau masyarakat memanfaatkan cuaca cerah dan minim polusi cahaya agar dapat menikmati berbagai fenomena langit tersebut secara maksimal.

