Enesis Group Ajak 4 SD di Jakarta Terapkan PSN 3M+ Cegah DBD
HAIJAKARTA.ID – Melalui brand lokal unggulannya Soffell, Enesis Group kembali bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan Jakarta, dalam program CSR “Asean Dengue Day 2026” untuk mendukung upaya promotif dan preventif Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.
Melalui kolaborasi ini, Enesis Group hadir dalam rangkaian kegiatan roadshow edukasi di SDN 03 & 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, dan SDN 02 Mampang Prapatan.
Program ini menghadirkan edukasi interaktif mengenai Gerakan 3M+, yaitu Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, serta pentingnya melindungi diri dari gigitan nyamuk melalui penggunaan lotion antinyamuk Soffell. Serta memperkuat Gerakan 3M+ upaya mendukung target Indonesia Zero Dengue Death 2030. Dengan mengusung tema “Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN”, inisiatif ini diwujudkan melalui edukasi interaktif di beberapa sekolah dasar di Jakarta untuk membangun budaya pencegahan DBD sejak dini.
Nyatanya, genangan air di bak mandi sekolah yang jarang dikuras dan tempat penampungan air minum yang tidak pernah ditutup adalah kondisi-kondisi yang masih ditemukan di banyak sekolah di Indonesia, dan menjadi salah satu penyebab mengapa anak usia sekolah menjadi korban DBD.
Data Kementerian Kesehatan mencatat, 41% dari total kematian akibat DBD terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun. Setiap angka di belakang persentase itu adalah anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah.
Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+ (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) adalah cara paling sederhana untuk memutus rantai penularan. Sekolah menjadi tempat yang paling strategis untuk menanamkan kebiasaan ini, karena anak-anak berada dalam masa pembentukan perilaku. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan lakukan setiap hari.
Dr. Agus Handito, mewakili Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, menekankan bahwa sekolah memiliki posisi sentral dalam upaya pencegahan DBD.
“Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan. Pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030,” ujar Dr. Agus Handito.
Enesis Group menggandeng sejumlah instansi pemerintahan dalam program CSR “ASEAN Dengue Day 2026”. Selain itu, Enesis Group juga mengenalkan pentingnya perlindungan diri dari gigitan nyamuk sebagai langkah preventif tambahan. Ini menjadi bekal bagi mereka untuk tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga melindungi diri sendiri dan keluarga.
RM Ardiantara, Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, mengatakan bahwa investasi pada edukasi anak-anak adalah investasi jangka panjang.
“Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat,” ujar RM Ardiantara.
Anak-anak yang terbiasa menguras, menutup, dan mendaur ulang di sekolah akan melakukan hal yang sama di rumah. Ini yang disebut efek berganda, di mana satu anak bisa mengubah kebiasaan satu keluarga, lalu satu keluarga bisa mengubah satu lingkungan. Gerakan Bebas Dengue dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Enesis Group berharap edukasi di empat sekolah dasar di Jakarta ini menjadi awal dari gerakan yang lebih luas. Target Indonesia Zero Dengue Death 2030 hanya bisa tercapai jika seluruh elemen masyarakat terlibat.
