sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Saat ini harga asli Pertamax disebut sudah tembus Rp17.000 per liter.

Namun demikian, pemerintah bersama Pertamina memutuskan untuk tetap menahan harga jual Pertamax di angka Rp12.300 per liter sejak April 2026 guna menjaga daya beli masyarakat.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa keputusan menahan harga Pertamax dilakukan setelah adanya pembahasan bersama pemerintah.

Selisih antara harga keekonomian dan harga jual nantinya akan dikompensasi oleh negara melalui skema kompensasi energi.

Menurut Roberth, untuk sementara Pertamina terlebih dahulu menanggung selisih harga tersebut sebelum pemerintah membayarkan kompensasi sesuai mekanisme yang berlaku.

“Kurang lebih memang sudah berada di kisaran Rp17.000 per liter untuk harga keekonomian Pertamax. Karena harga ditahan, maka selisihnya nanti akan dibahas untuk diberikan kompensasi oleh pemerintah,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa (12/5/2026).

Harga Ditahan demi Menjaga Konsumen Menengah

Roberth menuturkan, Pertamax tetap dipertahankan sebagai pilihan BBM bagi masyarakat kelas menengah.

Oleh sebab itu, pemerintah bersama Pertamina memilih untuk tidak menaikkan harga meskipun tekanan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terus meningkat.

Ia menjelaskan bahwa Pertamax merupakan Jenis BBM Umum (JBU) yang seharusnya mengikuti mekanisme pasar tanpa subsidi.

Berbeda dengan Pertalite yang masuk kategori Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dan mendapatkan dukungan pemerintah.

Meski demikian, pemerintah dinilai tetap memiliki peran dalam menjaga harga Pertamax agar tidak melonjak drastis di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

“Pertamax digunakan oleh masyarakat menengah. Sedangkan produk seperti Pertamax Turbo lebih menyasar kalangan menengah atas,” kata Roberth.

Ia juga mengungkapkan bahwa jika mengacu pada pola harga sebelumnya, selisih harga antara Pertamax dan Pertamax Turbo biasanya relatif tipis.

Saat Pertamax berada di harga Rp12.300 per liter, Pertamax Turbo tercatat sekitar Rp13.100 per liter.

Namun kini, ketika Pertamax Turbo sudah mencapai Rp19.900 per liter, maka secara keekonomian harga Pertamax seharusnya ikut naik mendekati level tersebut.

Harga BBM Nonsubsidi Naik Bertahap

Pada awal Mei 2026, Pertamina melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah BBM nonsubsidi setelah sebelumnya tidak melakukan perubahan harga pada jadwal rutin awal bulan.

Dalam penyesuaian terbaru tersebut:

  • Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp19.900 per liter
  • Dexlite naik menjadi Rp26.000 per liter
  • Pertamina Dex naik menjadi Rp27.900 per liter

Sementara itu, harga Pertamax tetap dipertahankan di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 bertahan di angka Rp12.900 per liter.

Pertamina menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia, harga produk olahan internasional, serta fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS.

Beban Subsidi dan Kompensasi Energi Membengkak

Di sisi lain, Kementerian Keuangan mencatat belanja subsidi dan kompensasi energi sepanjang kuartal I 2026 mencapai Rp118,7 triliun.

Nilai tersebut melonjak tajam hingga 266,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Rinciannya meliputi:

  • Subsidi energi sebesar Rp52,2 triliun
  • Kompensasi energi sebesar Rp66,5 triliun

Kenaikan ini dipicu oleh perubahan mekanisme pembayaran kompensasi kepada Pertamina dan PLN yang kini dilakukan secara bulanan.

Adapun total anggaran subsidi dan kompensasi energi yang disiapkan pemerintah pada 2026 mencapai Rp381,3 triliun. Anggaran tersebut mencakup subsidi BBM, LPG 3 kilogram, dan listrik.

Pertalite Tanpa Subsidi Disebut Tembus Rp16.088

Sebelumnya, Pertamina juga sempat mengungkap bahwa harga Pertalite tanpa subsidi diperkirakan sudah mencapai Rp16.088 per liter.

Angka tersebut memperlihatkan tingginya tekanan harga energi global yang berdampak langsung terhadap biaya penyediaan BBM di dalam negeri.

Meski harga keekonomian terus meningkat, pemerintah sejauh ini masih memilih menahan harga beberapa jenis BBM guna menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi nasional.

Kebijakan tersebut diperkirakan akan terus menjadi perhatian pemerintah mengingat gejolak harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah yang masih membayangi pasar energi global.