Isu Jakarta Banjir 5 Tahun Sekali, BMKG Bongkar Siklus dan Penyebabnya
HAIJAKARTA.ID – Banjir yang kembali melanda Ibu Kota pada awal 2026 memunculkan lagi anggapan lama di masyarakat soal jakarta banjir 5 tahun sekali.
Persepsi tersebut selama ini diyakini sebagian warga karena sejumlah banjir besar di Jakarta kerap terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa anggapan banjir lima tahunan sejatinya merupakan mitos yang keliru jika dipahami secara harfiah.
Jakarta Banjir 5 Tahun Sekali
Menurut Ardhasena, persepsi tersebut muncul karena adanya kebetulan historis, seperti banjir besar yang terjadi pada 2002 dan 2007, yang kemudian dianggap sebagai pola tetap kejadian banjir di Jakarta.
“Angka lima tahun itu sering dipahami secara sederhana sebagai banjir yang pasti terjadi setiap lima tahun sekali. Masyarakat mengaitkannya dengan banjir besar Jakarta yang kebetulan memiliki interval waktu sekitar lima tahun,” ujar Ardhasena kepada Tirto, Kamis (15/1/2026).
Ardhasena menjelaskan, dalam kajian hidrologi, istilah banjir lima tahunan merujuk pada konsep return period atau periode ulang.
Konsep ini disusun berdasarkan analisis data curah hujan dan debit sungai dalam rentang waktu panjang, bahkan puluhan tahun.
Periode ulang lima tahun tidak berarti banjir terjadi rutin setiap lima tahun. Konsep tersebut lebih mengacu pada peluang terjadinya banjir dengan intensitas tertentu dalam satu tahun.
“Periode ulang lima tahun artinya peluang terjadinya banjir dengan besaran tertentu sekitar 20 persen dalam satu tahun. Jadi bukan kepastian kejadian yang selalu muncul tiap lima tahun,” katanya.
Dengan demikian, banjir besar bisa saja terjadi dalam waktu berdekatan, misalnya dua hingga tiga tahun, atau justru tidak terjadi selama lebih dari lima tahun.
“Akibatnya, banjir besar bisa muncul dua kali dalam selang waktu yang dekat atau bahkan tidak terjadi sama sekali dalam periode yang panjang,” jelas Ardhasena.
Faktor Penyebab Jakarta Banjir
BMKG menilai anggapan jakarta banjir 5 tahun sekali tidak bisa dilepaskan dari kompleksitas faktor penyebab banjir di wilayah Jabodetabek.
Ardhasena menyebut, banjir di Jakarta umumnya merupakan hasil interaksi berbagai faktor atmosfer dan lingkungan.
Beberapa faktor utama meliputi Madden-Julian Oscillation (MJO), fenomena seruakan dingin dari utara, perubahan iklim, serta penurunan muka tanah yang menjadi persoalan paling krusial.
“Penurunan muka tanah menjadi faktor paling kritis dalam beberapa dekade terakhir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penurunan tanah menyebabkan sistem drainase kehilangan kemiringan alami sehingga air tidak bisa mengalir ke laut secara gravitasi.
“Akibatnya, air justru berbalik atau backwater. Kondisi ini memperluas genangan dan membuat sistem pompa menjadi satu-satunya solusi pembuangan air,” kata Ardhasena.
BMKG mencatat laju penurunan tanah di Jakarta mencapai sekitar 5 hingga 10 sentimeter per tahun.
Selain penurunan tanah, Ardhasena menjelaskan peran Madden-Julian Oscillation (MJO), yaitu migrasi awan konvektif dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dengan periode 30 hingga 90 hari.
Ketika MJO berada pada fase aktif di wilayah Indonesia, potensi hujan lebat berkepanjangan meningkat signifikan. Kondisi ini pernah memicu banjir besar Jakarta pada 1 Januari 2020.
“Sering kali MJO muncul bersamaan dengan gelombang atmosfer lain seperti Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial yang turut meningkatkan kandungan uap air,” ujarnya.
Faktor lain adalah fenomena seruakan dingin dari utara atau northerly surge. Fenomena ini membawa massa udara dingin dari Asia menuju Jawa dan memicu pertemuan angin di sekitar Jakarta.
“Aliran udara ini membawa uap air dalam jumlah besar dan memicu pertumbuhan awan hujan berskala besar,” jelasnya.
Siklus Perubahan Iklim
Ardhasena menambahkan, perubahan iklim turut memperparah risiko banjir di Jakarta. Intensitas hujan ekstrem dinilai semakin meningkat dari waktu ke waktu.
“Studi menunjukkan curah hujan ekstrem di Jakarta terus meningkat, terlihat dari naiknya nilai curah hujan maksimum tahunan,” ujarnya.
BMKG menegaskan bahwa banjir di Jakarta tidak bisa disederhanakan sebagai siklus lima tahunan semata.
Upaya mitigasi, pengendalian tata ruang, serta penanganan penurunan tanah dinilai menjadi kunci untuk mengurangi dampak banjir di masa mendatang.
