sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang berpotensi memicu kekurangan air bersih di sejumlah wilayah Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama periode kemarau.

Imbauan tersebut disampaikan saat menghadiri Apel Jaga Jakarta dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).

Pramono mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan dengan menghemat penggunaan air dan tidak menggunakan air secara berlebihan.

Menurut Pramono, kondisi cuaca yang sedang berlangsung perlu mendapat perhatian karena musim kemarau dapat menimbulkan berbagai dampak, tidak hanya terhadap ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran, menurunkan kualitas udara, serta berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Bersama kita jaga lingkungan masing-masing mulai dengan menggunakan air secara bijak,” ujar Pramono.

Puncak Kemarau Terjadi Agustus-September

Pramono menyebut pemerintah mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam menyusun langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.

BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada periode Juli hingga September, dengan wilayah yang memasuki puncak kemarau terbanyak berada pada Agustus dan September.

BMKG juga memperingatkan bahwa sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Selain itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino masih dapat bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memperbesar risiko kekeringan di sejumlah daerah.

Situasi tersebut membuat Pemprov DKI tidak hanya berfokus pada persoalan air bersih, tetapi juga menyiapkan mitigasi terhadap berbagai kemungkinan dampak kemarau.

29 Tangki Air Disiapkan untuk Warga

Untuk mengantisipasi kekurangan air bersih, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan puluhan mobil tangki yang dapat digunakan untuk mendistribusikan air ke wilayah yang membutuhkan.

Sebanyak 29 tangki air dari 10 instansi dan lembaga disiagakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat apabila terjadi kekurangan pasokan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan pemerintah menghadapi potensi kekeringan yang dapat meluas selama musim kemarau.

Pemprov DKI juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta memperkuat pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air.

Kalibaru dan Semper Mulai Mengalami Kekeringan

Kekhawatiran mengenai ketersediaan air bukan tanpa alasan. Saat ini, dua kelurahan di Jakarta Utara dilaporkan telah mengalami kekeringan, yakni Kelurahan Kalibaru dan Kelurahan Semper.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah menyiapkan mekanisme respons agar warga yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih dapat segera mendapatkan bantuan.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan masyarakat yang mengalami kekeringan dapat menyampaikan laporan melalui layanan darurat 112.

BPBD kemudian akan berkoordinasi dengan PAM Jaya untuk menindaklanjuti laporan tersebut dan membantu mendistribusikan air bersih ke lokasi yang membutuhkan.

Layanan pelaporan tersebut juga telah disosialisasikan kepada jajaran pemerintah kota, kecamatan, hingga kelurahan agar informasi mengenai kekeringan dapat segera diteruskan kepada petugas.

Dengan mekanisme tersebut, masyarakat tidak perlu menunggu kondisi semakin parah untuk melaporkan kekurangan air.

Pemprov DKI Antisipasi Kebakaran hingga Gangguan Kesehatan

Selain persoalan air, Pemprov DKI juga menaruh perhatian terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.

Cuaca yang lebih kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama di wilayah permukiman padat maupun kawasan yang memiliki titik rawan kebakaran.

Pramono meminta jajarannya melakukan mitigasi sejak dini dan tidak menunggu sampai bencana terjadi.

Langkah antisipasi yang disiapkan mencakup pemenuhan kebutuhan air, pencegahan kebakaran, pemantauan kualitas udara, penguatan ketahanan pangan, hingga perlindungan terhadap kesehatan masyarakat.

“Kondisi cuaca yang terus berubah menyebabkan kita harus selalu siaga dan menyiapkan langkah mitigasi cadangan,” kata Pramono.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, aparat, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Pengawasan terhadap wilayah yang rawan kebakaran dan ketersediaan stok pangan juga diminta terus dilakukan.

Edukasi kepada masyarakat mengenai potensi bahaya arus pendek listrik di permukiman padat turut menjadi perhatian pemerintah.

Warga Diminta Tidak Boros Air

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, masyarakat Jakarta diimbau melakukan langkah sederhana untuk mengurangi pemborosan air.

Penggunaan air seperlunya, memastikan tidak ada keran yang bocor, serta menghindari penggunaan air secara berlebihan menjadi bagian dari upaya bersama menjaga ketersediaan air.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan apabila lingkungan tempat tinggal mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Dengan adanya 29 tangki air, layanan pengaduan 112, serta koordinasi antara BPBD dan PAM Jaya, Pemprov DKI berharap kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau.

Kesiapsiagaan tersebut menjadi semakin penting karena BMKG memperkirakan dampak El Nino masih perlu diwaspadai hingga awal 2027.

Karena itu, menghadapi musim kemarau tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan menghemat air, menjaga lingkungan, dan segera melaporkan kondisi kekeringan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.