Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kampus mulai evaluasi sistem ujian di era AI, perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi.

Semakin banyak mahasiswa memanfaatkan teknologi AI untuk menyelesaikan tugas kuliah hingga ujian, membuat perguruan tinggi mulai mengkaji ulang sistem penilaian akademik yang selama ini diterapkan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga meluas secara global. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Inside Higher Ed-College Pulse, sekitar 85 persen mahasiswa di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan AI dalam berbagai aktivitas akademik.

Mulai dari diskusi kelas, kuis daring, hingga penyusunan tugas tertulis secara langsung dengan bantuan teknologi.

Lonjakan penggunaan AI ini semakin pesat sejak pandemi COVID-19, ketika pembelajaran jarak jauh menjadi kebiasaan baru.

Kehadiran platform AI generatif seperti ChatGPT pada 2022 turut mempercepat perubahan pola belajar mahasiswa, sekaligus mengguncang sistem evaluasi akademik konvensional yang selama ini mengandalkan tugas tertulis dan ujian daring.

AI Picu Fenomena “Cognitive Offloading” di Dunia Kampus

Para akademisi menyebut tren ini sebagai cognitive offloading, yaitu kondisi ketika mahasiswa menyerahkan sebagian besar proses berpikir dan analisis kepada teknologi.

Alih-alih mengolah ide secara mandiri, mahasiswa cukup memasukkan perintah ke sistem AI dan menerima jawaban instan yang tampak rapi serta meyakinkan.

Model evaluasi seperti ujian take home, esai daring, serta tugas pemrograman berbasis komputer dinilai semakin rentan dimanipulasi.

Banyak dosen mengaku kesulitan membedakan hasil kerja orisinal mahasiswa dengan konten yang dihasilkan mesin.

Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi mencari pendekatan baru agar proses penilaian tetap mencerminkan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar hasil akhir yang sempurna secara teknis.

Kampus Mulai Kembali ke Metode Ujian Lisan

Dalam laporan Inside Higher Ed-College Pulse, sekitar 30 persen perguruan tinggi mengaku tengah mendesain ulang sistem evaluasi agar lebih tahan terhadap penyalahgunaan AI.

Salah satu solusi yang kembali populer adalah penerapan ujian lisan. Metode ini dikombinasikan dengan ujian tulis manual, presentasi langsung, serta evaluasi tanpa perangkat digital.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dituntut menjelaskan konsep secara verbal, mempertahankan argumen, dan menunjukkan proses berpikir mereka secara nyata di hadapan dosen.

Langkah ini dianggap lebih efektif untuk mengukur pemahaman sesungguhnya dibanding sekadar menilai tugas tertulis yang berpotensi dihasilkan oleh AI.

Riset Akademik Dukung Reformasi Sistem Penilaian

Dorongan perubahan ini juga diperkuat oleh temuan penelitian dari penerbit akademik global Taylor & Francis pada 2025.

Studi tersebut merekomendasikan agar institusi pendidikan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada dosen dalam merancang sistem evaluasi.

Para peneliti menilai pendekatan kreatif seperti ujian lisan, penilaian berbasis proses, serta diskusi terbuka mampu menjaga integritas akademik di tengah derasnya arus teknologi AI.

Transformasi sistem penilaian dinilai tak terelakkan, mengingat AI akan terus berkembang dan semakin sulit dideteksi dengan alat konvensional.

Kelebihan dan Tantangan Ujian Lisan

Ujian lisan menawarkan sejumlah keunggulan penting. Dosen dapat menilai langsung kedalaman pemahaman mahasiswa, kemampuan berpikir kritis, serta keaslian jawaban tanpa bergantung pada perangkat pendeteksi AI yang sering kali tidak akurat.

Selain itu, metode ini dinilai mampu memperbaiki hubungan akademik antara dosen dan mahasiswa.

Proses evaluasi berlangsung lebih dialogis, bukan konfrontatif seperti saat membuktikan dugaan kecurangan berbasis teknologi.

Namun demikian, ujian lisan juga memiliki keterbatasan. Untuk kelas dengan jumlah mahasiswa besar, metode ini membutuhkan waktu lebih lama dan sumber daya tambahan.

Beban kerja dosen pun berpotensi meningkat, terutama di tengah keterbatasan tenaga pengajar.

Karena itu, banyak akademisi sepakat bahwa ujian lisan sebaiknya dijadikan bagian dari kombinasi sistem evaluasi, bukan pengganti mutlak ujian konvensional.

Strategi Penilaian Lain yang Mulai Diterapkan

Selain ujian lisan, sejumlah kampus juga mengembangkan pendekatan alternatif, seperti:

  • Ujian tulis tangan langsung di kelas tanpa akses perangkat digital
  • Tugas bertahap dengan proses revisi dan anotasi
  • Presentasi proyek secara langsung
  • Praktikum dengan pengawasan ketat
  • Kerja kelompok berbasis observasi dosen

Model ini menuntut mahasiswa menunjukkan alur berpikir, bukan sekadar menyerahkan hasil akhir. Menariknya, banyak mahasiswa justru menyambut positif perubahan ini.

Sejumlah survei internal kampus menunjukkan mahasiswa merasa ujian lisan memberi ruang lebih besar untuk mengekspresikan pemahaman secara aktif, bukan hanya menghafal atau mengandalkan teknologi.

Tantangan Global Pendidikan Tinggi di Era AI

Para pakar pendidikan menilai bahwa AI tidak bisa sepenuhnya dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana institusi pendidikan menyesuaikan diri dengan teknologi tanpa mengorbankan esensi pembelajaran.

Reformasi sistem penilaian ini dianggap sebagai momentum penting untuk menegaskan kembali tujuan pendidikan tinggi.

Tujuannya membentuk kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif, bukan sekadar menghasilkan jawaban instan.

Meski belum sepenuhnya kebal terhadap AI, kombinasi metode evaluasi yang lebih interaktif diyakini mampu menjaga kualitas akademik di tengah revolusi digital.