Lokasi Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras di Salemba, Warga: Rawan Kejahatan
HAIJAKARTA.ID – Peristiwa penyiraman air keras terhadap aktivis HAM masih ramai menjadi perbincangan publik.
Lokasi aktivis kontraS Andrie Yunus disiram air keras diketahui berada di kawasan Jalan Salemba I, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
Warga sekitar menyebut area tersebut memang dikenal rawan tindak kriminal seperti penjambretan dan begal.
Titik kejadian berada di dekat perempatan yang menghubungkan Jalan Salemba I, Jalan Talang, serta kawasan Jembatan Talang yang tidak jauh dari wilayah Pegangsaan, Kecamatan Menteng.
Lokasi Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras
Berdasarkan pantauan di lapangan sekitar pukul 22.00 WIB, seorang warga bernama Temu (42) menunjukkan titik yang diduga menjadi lokasi kejadian.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi di sekitar perempatan dekat jembatan yang menghubungkan beberapa ruas jalan di kawasan itu.
“Lokasinya ada di dekat jembatan itu, tepat di perempatan yang menghubungkan Jembatan Talang dengan Jalan Salemba I. Memang rawan kejahatan,” kata Temu saat ditemui di lokasi.
Temu juga menegaskan bahwa lokasi tersebut memang berada di jalur pertemuan kendaraan dari beberapa arah.
“Di situ memang perempatan yang menghubungkan Jembatan Talang dan Jalan Salemba I, jadi kendaraan dari beberapa arah sering lewat,” ujarnya.
Dari hasil pengamatan di sekitar lokasi Aktivis KontraS Andrie Yunus disiram air keras, kondisi penerangan jalan terlihat terbatas.
Di titik yang diduga menjadi lokasi penyiraman hanya terdapat satu lampu penerangan jalan umum (PJU).
Sementara di sepanjang Jalan Salemba I terdapat belasan lampu penerangan lainnya.
Sekitar 50 meter dari lokasi tersebut terdapat kios laundry, tempat bimbingan belajar Nurul Fikri, serta sebuah warung.
Namun ketika peninjauan dilakukan pada malam hari, seluruh tempat usaha tersebut sudah tutup.
Menurut Temu, biasanya tempat usaha di sekitar lokasi tetap buka hingga larut malam bahkan ada yang beroperasi selama 24 jam.
“Biasanya warung sama laundry di sini buka terus, tapi malam ini tutup karena pemiliknya pulang kampung,” ujar Temu.
Meski kondisi Jembatan Talang tampak gelap, aktivitas kendaraan di sekitar lokasi masih cukup ramai pada malam hari.
Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat melintas di Jalan Salemba I dan Jalan Talang pada pukul 22.00 hingga 23.00 WIB.
Di sekitar jembatan juga terlihat beberapa pemuda duduk sambil memainkan telepon genggam.
Di seberang jembatan terdapat sejumlah warung, warung kopi (warkop), serta rumah warga yang berada tidak jauh dari lokasi Aktivis KontraS Andrie Yunus disiram air keras.
Profil Andrie Yunus
Andrie Yunus dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang saat ini menjabat sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Dalam perannya tersebut, ia aktif menyuarakan isu pelanggaran HAM, reformasi sektor keamanan, serta advokasi bagi korban kekerasan negara.
Sebelum bergabung dengan KontraS pada 2022, Andrie bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta pada periode 2019 hingga 2022 sebagai advokat yang fokus pada advokasi hukum publik.
Di lembaga tersebut, ia terlibat dalam berbagai pendampingan kasus yang berkaitan dengan kebebasan sipil serta perlindungan hak masyarakat.
Andrie merupakan alumni Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera dan penerima Beasiswa Jentera.
Ia lulus pada tahun 2020 dengan skripsi yang menyoroti peran paralegal dalam mewujudkan persamaan di hadapan hukum.
Aktif Mengkritik Kebijakan Negara
Sejak aktif di KontraS, Andrie dikenal sebagai aktivis yang kerap menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan negara, terutama yang berkaitan dengan sektor keamanan.
Ia juga beberapa kali terlibat dalam advokasi publik terkait isu reformasi sektor keamanan, termasuk kritik terhadap wacana revisi Undang-Undang TNI yang dinilai berpotensi memperluas peran militer di ranah sipil.
Pada tahun 2025, Andrie sempat menjadi sorotan publik ketika bersama sejumlah aktivis masyarakat sipil mendatangi rapat pembahasan revisi UU TNI yang berlangsung secara tertutup di sebuah hotel di Jakarta.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap proses legislasi yang dinilai tidak transparan.
Selain itu, ia juga pernah hadir sebagai saksi dalam persidangan uji formal Undang-Undang TNI di Mahkamah Konstitusi untuk memberikan keterangan dari perspektif masyarakat sipil.
