sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengusulkan agar masyarakat berbelanja sekitar Rp1 juta setiap bulan di Koperasi Desa (Kopdes).

Menurutnya, peningkatan transaksi masyarakat di koperasi dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat perekonomian desa sekaligus meningkatkan pendapatan koperasi agar mampu menjalankan operasional secara berkelanjutan.

Pigai menjelaskan bahwa koperasi yang memiliki omzet besar akan memiliki kemampuan finansial yang lebih baik, termasuk dalam membayar gaji pengelola, meningkatkan kualitas layanan, serta memperluas usaha yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat desa.

Diharapkan Perkuat Ekonomi Desa

Usulan tersebut disampaikan sebagai bagian dari dorongan agar koperasi desa menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan meningkatnya jumlah transaksi, koperasi diharapkan tidak hanya menjadi tempat berbelanja kebutuhan pokok, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi lokal melalui penyediaan barang, jasa, hingga pembiayaan usaha masyarakat.

Konsep ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat kelembagaan koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi kerakyatan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa.

Memicu Beragam Tanggapan

Pernyataan Pigai langsung menjadi perhatian publik dan memunculkan beragam respons. Sebagian pihak menilai gagasan tersebut dapat menjadi stimulus bagi koperasi desa untuk berkembang sehingga roda perekonomian di daerah semakin aktif.

Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah angka belanja sebesar Rp1 juta per bulan dapat diterapkan secara merata kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut sejumlah pengamat, kemampuan ekonomi setiap rumah tangga berbeda sehingga kebijakan atau ajakan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Daya Beli Dinilai Masih Menjadi Tantangan

Di media sosial, banyak warganet menyoroti kondisi daya beli masyarakat yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan.

Mereka berpendapat bahwa peningkatan transaksi di koperasi akan lebih mudah tercapai apabila diikuti dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, terbukanya lapangan kerja, serta terjaganya stabilitas harga kebutuhan pokok.

Sejumlah ekonom juga menilai keberhasilan koperasi tidak hanya bergantung pada besarnya transaksi masyarakat, tetapi juga dipengaruhi tata kelola yang profesional, ketersediaan produk yang kompetitif, harga yang bersaing, serta kepercayaan anggota terhadap pengelolaan koperasi.

Koperasi Didorong Menjadi Motor Ekonomi

Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir memang terus mendorong penguatan koperasi sebagai bagian dari pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan.

Melalui pengembangan koperasi desa, pemerintah berharap aktivitas ekonomi dapat tumbuh dari tingkat lokal sehingga memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan berbagai faktor, mulai dari peningkatan daya beli masyarakat, akses permodalan, pembinaan sumber daya manusia, hingga tata kelola koperasi yang transparan dan akuntabel.