Ngeri! WNI Jadi Sandera Bajak Laut Somalia Selama Sepekan, Begini Awal Mulanya
HAIJAKARTA.ID – Sebanyak empat warga negara Indonesia dilaporkan disekap selama sepekan di perairan Somalia.
Hingga kini, proses negosiasi pembebasan masih berlangsung.
WNI Jadi Sandera Bajak Laut Somalia Sejak 21 April
Empat WNI tersebut merupakan bagian dari awak kapal tanker MT Honour 25 yang disergap kelompok bajak laut pada Selasa (21/4/2026) malam.
Kementerian Luar Negeri melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak di Somalia.
Kasus WNI jadi sandera bajak laut Somalia ini menambah daftar panjang insiden pembajakan kapal di wilayah rawan tersebut.
Detik-detik Penyergapan dari Pesan Suara
Salah satu korban, Ashari Samadikun, sempat mengirim pesan suara kepada istrinya, Santi Sanaya, saat kapal diserang.
Tak lama setelah itu, komunikasi terputus.
“Selang beberapa jam kemudian, ponselnya sudah tidak aktif. Saya benar-benar kehilangan kontak dengan dia,” ujar Santi dengan suara lirih.
Dalam penyergapan tersebut, sekitar 15 orang bersenjata dilaporkan naik ke kapal dan langsung menguasai situasi.
Dalam komunikasi terakhir, Ashari menceritakan situasi mencekam yang dialaminya bersama kru lain.
Ia bahkan sempat berusaha menenangkan para perompak.
“Suami saya sempat menyapa mereka dengan ‘Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim’,” kata Santi menirukan ucapan suaminya.
Dialog tersebut berlanjut ketika perompak menanyakan identitas agama korban.
“Perompak itu bertanya ‘kamu Muslim?’ lalu suami saya menjawab ‘iya’, dan mereka mengatakan ‘kami juga Muslim’,” lanjutnya.
Kondisi Sandera Masih Hidup
Meski dalam tekanan, kondisi para sandera dilaporkan masih relatif baik.
Mereka masih diberi makan dan diperbolehkan beribadah selama masa penyanderaan.
Namun, situasi tetap tidak menentu.
“Kalau para perompak merasa terancam, suasana langsung berubah mencekam. Suami saya beberapa kali ditodong senjata,” ungkap Santi.
Dalam komunikasi terakhir pada Minggu (26/4), Ashari menyampaikan bahwa pihak perompak tengah melakukan negosiasi dengan perusahaan untuk meminta uang tebusan.
“Suami saya bilang agar saya tidak lagi menghubungi nomor kapal karena khawatir ponselnya dipegang perompak,” ujarnya.
Para sandera kini dilaporkan berada di dekat markas bajak laut, sekitar tiga mil dari garis pantai Somalia, dengan pengawasan ketat sekitar 30 orang bersenjata.
Keluarga korban berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan para sandera.
Santi berharap perhatian khusus dari pemerintah pusat.
“Semoga pemerintah bisa membantu, terutama Presiden Prabowo, agar suami saya dan kru lainnya bisa kembali ke Indonesia dalam kondisi selamat dan lengkap,” ujarnya.
