sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemprov DKI Kaji inovasi pengolahan ikan sapu-sapu dalam menangani lonjakan populasi ikan sapu-sapu yang kini mendominasi perairan ibu kota.

Salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan adalah mengolah ikan tersebut menjadi arang, sebagaimana praktik yang pernah diterapkan di Brasil.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan bahwa ide tersebut muncul setelah melihat pengalaman negara lain dalam menangani masalah serupa.

“Di Brasil, ikan sapu-sapu juga sempat menjadi persoalan. Namun, mereka berhasil memanfaatkannya menjadi produk lain, bahkan bisa diolah menjadi arang,” ujar Rano di Balai Kota Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Populasi Melonjak, Pemprov Kaget Temuan Berton-ton Ikan

Rano mengaku terkejut dengan jumlah ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap dalam operasi awal yang mencapai hitungan ton.

Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa penyebaran ikan invasif tersebut sudah sangat masif dan membutuhkan penanganan serius.

Lonjakan populasi ikan sapu-sapu dinilai berdampak pada keseimbangan ekosistem perairan, karena spesies ini dikenal agresif dan dapat mengganggu habitat ikan lokal.

“Ini baru pertama kali kita lakukan penangkapan besar-besaran, dan hasilnya cukup mengejutkan. Jumlahnya sangat banyak,” jelasnya.

Program Penanganan Akan Dilanjutkan dan Diperluas

Pemprov DKI menegaskan bahwa upaya penanggulangan ikan sapu-sapu tidak akan berhenti pada operasi awal saja.

Program ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari strategi menjaga kualitas lingkungan dan ekosistem perairan Jakarta.

Menurut Rano, pemerintah saat ini sedang mengevaluasi berbagai metode yang tidak hanya efektif mengurangi populasi, tetapi juga memberikan nilai tambah dari hasil penanganan tersebut.

“Ini program penting yang harus terus kita jalankan. Kita juga sedang mencari pendekatan yang lebih optimal dan bermanfaat,” tegasnya.

Sorotan MUI Jadi Bahan Evaluasi Metode Penanganan

Selain inovasi pengolahan, Pemprov juga menanggapi kritik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait metode pemusnahan ikan sapu-sapu yang sebelumnya dilakukan dengan cara dikubur, termasuk dalam kondisi sebagian ikan masih hidup.

Rano memastikan bahwa kritik tersebut akan menjadi bahan evaluasi agar proses penanganan ke depan lebih sesuai dengan standar etika dan kemanusiaan.

“Ke depan tentu akan kita perbaiki. Prosedurnya harus lebih baik, termasuk memastikan ikan sudah mati sebelum diproses lebih lanjut,” katanya.

Belajar dari Brasil: Limbah Jadi Produk Bernilai

Gagasan mengolah ikan sapu-sapu menjadi arang dinilai sebagai langkah potensial dalam mengubah masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi.

Di beberapa wilayah Brasil, pemanfaatan ikan invasif ini telah dilakukan untuk berbagai kebutuhan, termasuk bahan bakar alternatif.

Jika diterapkan di Jakarta, pendekatan ini tidak hanya membantu mengendalikan populasi ikan sapu-sapu, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis pengolahan limbah.

Dorongan Penanganan Terintegrasi

Sejumlah pihak, termasuk anggota DPRD dan pemerhati lingkungan, juga mendorong agar penanganan ikan sapu-sapu dilakukan secara terintegrasi.

Pendekatan ini meliputi penangkapan rutin, pemanfaatan hasil tangkapan, serta edukasi kepada masyarakat.

Dengan populasi yang disebut telah mencapai sekitar 60 persen di beberapa perairan Jakarta, langkah cepat dan sistematis dinilai sangat mendesak untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas.

Masalah ikan sapu-sapu di Jakarta kini tidak lagi sekadar isu lingkungan biasa, melainkan tantangan serius yang membutuhkan solusi inovatif.

Rencana pemanfaatan ikan ini menjadi arang menunjukkan adanya upaya kreatif dari pemerintah untuk mengubah persoalan menjadi peluang.

Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, dukungan teknologi, serta keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan ibu kota.