Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemerintah tengah mendorong pengembangan layanan kesehatan yang mampu menjangkau masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan.

Salah satu gagasan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto adalah menghadirkan ambulans terbang untuk mempercepat proses evakuasi pasien yang membutuhkan penanganan medis.

Gagasan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN 2027 beserta Nota Keuangan pada 14 Agustus 2026.

Dalam penyampaiannya, Prabowo menyoroti masih adanya masyarakat yang harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk memperoleh layanan kesehatan.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius, terutama bagi pasien dalam kondisi darurat seperti ibu hamil yang membutuhkan pertolongan persalinan segera.

Konsep ambulans terbang diharapkan dapat menjadi alternatif transportasi medis untuk daerah yang sulit dijangkau melalui jalan darat.

Kehadiran moda tersebut dinilai penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam.

BRIN Siapkan Pengembangan N219

Menindaklanjuti gagasan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan dukungan terhadap pengembangan teknologi kedirgantaraan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan evakuasi medis.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa pihaknya bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah mematangkan ekosistem pesawat N219 beserta varian amfibinya, N219A.

Pesawat N219 memang dirancang sebagai pesawat multiguna yang dapat digunakan dalam berbagai misi.

PTDI menyebut N219 dapat dikonfigurasi untuk transportasi penumpang, kargo, pencarian dan pertolongan (SAR), hingga evakuasi medis.

Karakteristik N219 juga dinilai sesuai dengan kebutuhan wilayah Indonesia. Pesawat ini dirancang untuk beroperasi di daerah dengan landasan pendek dan kondisi geografis yang menantang, sehingga berpotensi menjadi salah satu solusi konektivitas bagi wilayah yang selama ini sulit terjangkau.

N219A Bisa Menjangkau Wilayah Kepulauan

Selain N219 versi konvensional, pengembangan varian amfibi N219A menjadi bagian penting dari ekosistem teknologi tersebut.

Pesawat amfibi memiliki kemampuan untuk beroperasi dari wilayah perairan, sehingga berpotensi memberikan akses tambahan bagi daerah kepulauan yang tidak memiliki landasan pacu memadai.

Pengembangan N219A bukanlah konsep baru. Pemerintah sebelumnya telah mendorong pengembangan pesawat amfibi sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas wilayah Indonesia.

Bappenas mencatat pengembangan N219 dan N219A dilakukan dengan melibatkan PTDI, BRIN, serta kementerian/lembaga terkait.

Kementerian Pertahanan juga sebelumnya menilai N219 memiliki peran strategis untuk meningkatkan konektivitas nasional, termasuk melalui pengembangan pesawat amfibi yang dapat dimanfaatkan di sejumlah wilayah kepulauan dan daerah dengan akses transportasi terbatas.

Bukan Sekadar Ambulans, Bisa Dukung Logistik Medis

Penggunaan pesawat untuk layanan kesehatan nantinya tidak hanya berpotensi digunakan sebagai ambulans udara.

Pesawat tersebut juga dapat mendukung pengiriman obat-obatan, peralatan kesehatan, tenaga medis, maupun kebutuhan logistik darurat ke wilayah yang sulit dijangkau.

Pemanfaatan N219 untuk misi medis sendiri telah menjadi salah satu opsi konfigurasi yang disiapkan PTDI.

Dengan kabin yang dapat disesuaikan dan pintu kargo yang lebar, pesawat ini dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan misi.

PTDI bahkan telah menandatangani kontrak empat unit N219 pada Mei 2026 untuk kebutuhan angkutan kargo di wilayah perintis.

Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan N219 tidak hanya diarahkan untuk transportasi penumpang, tetapi juga untuk mendukung distribusi logistik di daerah yang aksesnya terbatas.

BRIN Kembangkan Teknologi Nirawak

Pengembangan teknologi kedirgantaraan BRIN juga tidak berhenti pada pesawat berawak. Lembaga tersebut turut mengembangkan berbagai sistem pesawat nirawak untuk kebutuhan strategis.

BRIN dan PTDI sebelumnya telah bekerja sama dalam pengembangan pesawat N219 sekaligus sejumlah teknologi pesawat nirawak.

Di sisi lain, BRIN juga tengah mengembangkan teknologi pesawat udara nirawak untuk kebutuhan pemantauan, survei, pemetaan, hingga pengawasan wilayah.

Pemerintah melihat pengembangan teknologi tersebut sebagai bagian dari penguatan ekosistem kedirgantaraan nasional.

Dengan demikian, gagasan ambulans terbang bukan hanya berkaitan dengan penyediaan pesawat, tetapi juga menyangkut pembangunan ekosistem transportasi udara, teknologi medis, logistik, hingga infrastruktur pendukung.

Jika pengembangannya terealisasi, ambulans terbang diharapkan dapat memangkas waktu perjalanan pasien dari wilayah terpencil menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Bagi masyarakat di daerah kepulauan dan wilayah dengan akses jalan terbatas, teknologi tersebut berpotensi menjadi jembatan penting untuk mendapatkan pertolongan medis lebih cepat.

Pemerintah dan BRIN kini menghadapi tantangan berikutnya, yakni memastikan teknologi tersebut dapat dikembangkan secara matang, memenuhi aspek keselamatan penerbangan, memiliki infrastruktur pendukung, serta dapat dioperasikan secara berkelanjutan.