Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan kondisi kemarau lebih panjang dan meningkatkan risiko kekeringan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyetujui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebanyak satu hingga dua kali dalam sepekan, dengan catatan terdapat pembentukan awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah mitigasi Pemprov DKI Jakarta dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca.

Pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap potensi meningkatnya risiko kebakaran akibat kondisi yang lebih kering selama periode kemarau.

Antisipasi Dampak El Nino

El Nino merupakan salah satu fenomena iklim yang dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan sebagian wilayah mengalami penurunan curah hujan sehingga musim kemarau dapat berlangsung lebih kering.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini. Salah satunya melalui OMC yang dilaksanakan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menjelaskan bahwa operasi modifikasi cuaca dapat digunakan sebagai bagian dari upaya mitigasi terhadap dampak kondisi cuaca tertentu, termasuk untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan ketika terdapat awan yang memenuhi persyaratan.

Tidak Bisa Dilakukan Tanpa Awan

Pelaksanaan OMC tidak berarti pemerintah dapat menciptakan hujan dari langit yang benar-benar cerah. Operasi tersebut membutuhkan keberadaan awan yang memiliki potensi untuk disemai.

Karena itu, keputusan mengenai waktu pelaksanaan harus mempertimbangkan hasil pemantauan dan analisis cuaca.

BMKG memiliki peran penting dalam memberikan informasi mengenai kondisi atmosfer sehingga operasi dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Dengan demikian, rencana pelaksanaan satu hingga dua kali dalam sepekan bersifat situasional dan tidak berarti OMC akan selalu dilakukan setiap minggu tanpa melihat kondisi cuaca.

Fokus Mengurangi Risiko Kebakaran

Selain persoalan ketersediaan air, kondisi kemarau panjang juga dapat meningkatkan potensi kebakaran.

Vegetasi yang mengering akibat minimnya hujan lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.

Pemprov DKI Jakarta karena itu menempatkan mitigasi kebakaran sebagai salah satu perhatian dalam menghadapi potensi dampak El Nino.

Upaya tersebut perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pemantauan kondisi cuaca, kesiapan petugas, pengawasan wilayah yang rawan kebakaran, hingga pengelolaan ketersediaan air.

BMKG Jadi Acuan Pemantauan Cuaca

Dalam pelaksanaan OMC, informasi dari BMKG menjadi salah satu dasar penting untuk menentukan kondisi cuaca yang memungkinkan dilakukannya modifikasi.

BMKG melakukan pemantauan terhadap berbagai parameter atmosfer, termasuk pertumbuhan awan dan perkembangan sistem cuaca. Data tersebut diperlukan agar pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan.

OMC juga bukan pengganti upaya mitigasi lainnya. Pemerintah tetap perlu memperkuat kesiapan menghadapi kekeringan, menjaga sumber daya air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

Jakarta Perkuat Kesiapsiagaan

Persetujuan Pramono terhadap pelaksanaan OMC hingga dua kali dalam sepekan menunjukkan langkah Pemprov DKI untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kemarau yang lebih panjang.

Namun, efektivitas pelaksanaan OMC tetap sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Ketika awan yang sesuai tidak terbentuk, operasi tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan jadwal.

Dengan mengandalkan pemantauan BMKG dan koordinasi antarlembaga, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah yang lebih cepat dan terukur dalam menghadapi potensi dampak El Nino.