Rangkuman Isi Surat Megawati atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Kenang Pertemuan di Teheran 2004
HAIJAKARTA.ID – Rangkuman isi surat Megawati atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei menjadi perhatian publik internasional.
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Surat tersebut dikirimkan kepada Pemimpin Tertinggi Sementara, Presiden, serta seluruh rakyat Republik CBK Islam Iran menyusul wafatnya Khamenei akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyerahkan langsung surat tersebut kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Jakarta.
Rangkuman Isi Surat Megawati atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei
Dalam rangkuman isi surat Megawati atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Megawati mengaku terkejut sekaligus berduka mendalam atas kepergian sosok yang disebutnya sebagai pemimpin besar Iran.
Ia menyatakan bahwa dirinya, sebagai Presiden ke-5 RI dan mewakili keluarga besar Bung Karno, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan militer mendadak oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran pada Static date omitted.
Megawati juga menyampaikan simpati dan solidaritas tulus kepada keluarga, pemerintah, serta seluruh rakyat Iran yang mencintai perdamaian, keadilan, dan kedaulatan negara merdeka.
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa selama lebih dari tiga dekade, Ayatollah Ali Khamenei memimpin Iran dalam tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer, sembari konsisten mempertahankan kedaulatan negaranya dan martabat dunia Islam.
Megawati menilai dalam diri Khamenei terlihat sosok ulama sekaligus negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, serta sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten.
Kedekatan Historis dengan Bung Karno
Rangkuman isi surat Megawati atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei juga menyoroti kedekatan batin dan pemikiran antara Khamenei dengan Presiden Pertama RI, Sukarno.
Megawati menyebut berbagai kesaksian menunjukkan bahwa sejak usia muda, Khamenei mengagumi Bung Karno, membaca gagasan-gagasannya, serta menjadikan pengalaman Indonesia, terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung sebagai referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan, dan keadilan sosial di Iran.
Sebagai putri sulung Bung Karno, Megawati mengaku merasakan ikatan historis dan ideologis yang kuat antara rakyat Indonesia dan rakyat Iran.
Ia menilai persaudaraan tersebut terjalin bukan hanya melalui diplomasi formal, tetapi juga melalui kesamaan pengalaman sebagai bangsa yang menentang penjajahan dan menginginkan tatanan dunia yang lebih adil.
Kenangan Pertemuan di Teheran
Dalam rangkuman isi surat Megawati atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Megawati juga mengenang kunjungan resminya ke Teheran pada 2004 saat menghadiri Konferensi D-8 dalam kapasitas sebagai Presiden RI.
Ia menyebut saat itu dirinya berkesempatan bertemu langsung dengan Ayatollah Ali Khamenei dan merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang kuat dari sosok tersebut.
Megawati juga mengingat pernah mengundang langsung Khamenei untuk menghadiri Konferensi Ulama Islam Internasional di Jakarta pada Februari 2004 serta peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-intigga puluh tahun 2005, meski undangan tersebut belum sempat terealisasi hingga akhir hayatnya.
Sikap Tegas Tolak Agresi Militer
Dalam bagian lain suratnya, Megawati menegaskan bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara serta membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia.
Ia menekankan bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan dengan kekerasan atau penggunaan kekuatan bersenjata.
“Kami meyakini penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan,” demikian penegasan dalam surat tersebut.
Megawati turut mendoakan agar almarhum Ayatollah Ali Khamenei mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan serta agar rakyat Iran diberikan kekuatan dan persatuan dalam menghadapi masa sulit.
Anggota Keluarga Turut Meninggal
Sementara itu, media Iran Tasnim News Agency melaporkan bahwa istri Ayatollah Ali Khamenei, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami luka parah dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Selain itu, sejumlah anggota keluarga Khamenei, termasuk putri, menantu, dan cucunya, juga dilaporkan tewas dalam serangan yang diklaim berlangsung secara terkoordinasi dan menargetkan sejumlah titik strategis di Teheran.
Rangkuman isi surat Megawati atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pun menjadi simbol solidaritas politik dan historis Indonesia terhadap Iran di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas.

