Situs Megalitik Baru di Gunung Tangkil Sukabumi, BRIN Gunakan Teknologi LiDAR
HAIJAKARTA.ID – Sejumlah peneliti mengungkap temuan situs megalitik baru di Indonesia yang berada di kawasan Gunung Tangkil, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Penemuan ini merupakan hasil kerja tim arkeologi gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Museum Prabu Siliwangi, dengan dukungan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging).
Kajian terhadap Gunung Tangkil dilakukan untuk menelusuri jejak peradaban megalitik yang diduga pernah berkembang di kawasan tersebut.
Riset ini bermula saat peneliti BRIN, Zubair Mas’ud, menemukan fragmen patung batu di lereng Gunung Tangkil yang jarang dijamah manusia.
Berdasarkan keterangan Museum Prabu Siliwangi, wilayah tersebut masih diselimuti hutan lebat dan minim eksplorasi, sehingga diyakini menyimpan banyak tinggalan peradaban kuno yang belum terungkap.
Situs Megalitik Baru di Gunung Tangkil Sukabumi
Hasil analisis awal menunjukkan bahwa komposisi batu pada artefak yang ditemukan memiliki kemiripan dengan koleksi benda megalitik yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi.
Temuan ini kemudian dipaparkan oleh pendiri Museum Prabu Siliwangi, M Fajar Laksana, dalam seminar arkeologi pada Juli 2025.
Ia menyebutkan bahwa kesamaan karakteristik dan komposisi batu mengindikasikan fragmen-fragmen tersebut kemungkinan berasal dari satu tradisi budaya yang sama.
“Komposisi dan karakteristik batuannya mengarah pada kesamaan asal-usul. Ini temuan yang sangat potensial,” ujar Fajar dalam seminar arkeologi, Sabtu (13/12), dikutip dari Detik.
Meski Gunung Tangkil belum ditetapkan secara resmi sebagai situs cagar budaya, Museum Prabu Siliwangi menilai berbagai temuan di sekitarnya memperkuat dugaan adanya jaringan megalitik yang lebih luas di Jawa Barat.
Di antaranya penemuan menhir di Desa Tugu serta fragmen batu serupa di kawasan Gunung Karang.
Survei lanjutan dilakukan BRIN dengan memanfaatkan teknologi LiDAR pada 16–20 September 2025.
Langkah ini menjadi survei paling mutakhir yang pernah dilakukan di Gunung Tangkil.
Teknologi berbasis laser tersebut mampu menembus rapatnya kanopi hutan untuk mendeteksi struktur batu dan anomali permukaan yang sebelumnya tersembunyi.
LiDAR dipasang pada wahana drone dan bekerja dengan memancarkan sinar laser ke area yang dipetakan.
Pantulan cahaya kemudian diolah menjadi citra permukaan tanah, termasuk bagian yang tertutup vegetasi lebat.
Dengan teknologi ini, tim peneliti dapat memetakan kontur tanah secara detail dan mengidentifikasi struktur serta formasi batu yang sebelumnya tidak dapat diamati secara langsung.
Empat Klaster Teras
Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, M. Irfan Machmud, mengungkapkan bahwa tim peneliti menemukan sejumlah formasi batu di kawasan pegunungan Gunung Tangkil yang kuat diduga berkaitan dengan tradisi megalitik.
“Dari analisa kita menemukan anomali yang menunjukkan beberapa struktur, juga jejak yang diduga jalan kuno. Ada undakan teras, calon arca, sampai bekas jalan batu,” ujar Irfan.
Ia menjelaskan, hasil analisis memperlihatkan adanya berbagai anomali yang mengarah pada keberadaan struktur buatan manusia, termasuk jejak yang diperkirakan sebagai jalan kuno.
Temuan tersebut meliputi undakan teras, dugaan calon arca, hingga sisa-sisa jalur batu.
Berdasarkan pemetaan LiDAR, teridentifikasi empat klaster teras utama di Gunung Tangkil.
Pada teras pertama ditemukan fragmen batu, menhir, kemungkinan patung, serta bekas jalur batu.
Teras kedua menampilkan susunan batu yang tertata rapi dan membentuk pola mirip permainan tradisional dakon.
Di teras ketiga, peneliti menjumpai tumpukan batu yang diduga berkaitan dengan aktivitas ritual, lengkap dengan batu penanda yang berdiri tegak.
Sementara itu, teras keempat memperlihatkan formasi batu memanjang dengan tambahan batu-batu tegak di sekitarnya.
Selain struktur batu, survei lapangan BRIN sebelumnya juga menemukan ratusan pecahan keramik yang berasal dari rentang abad ke-10 hingga ke-20.
“Temuan keramik ini menjadi bukti adanya interaksi ekonomi yang luas. Temuan ini tidak hanya penting bagi arkeologi, tetapi juga memahami sejarah perdagangan di kawasan regional,” ujar salah satu peneliti.
Tim ahli keramik menilai temuan tersebut menjadi indikasi adanya hubungan yang terjalin selama berabad-abad antara wilayah Kepulauan Indonesia dan pedagang maritim dari China.
Keberadaan artefak keramik ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Gunung Tangkil pernah terhubung dengan jalur perdagangan regional.
Hal ini menambah nilai penting situs tersebut, tidak hanya sebagai lokasi ritual atau upacara, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masa lalu.
Salah satu peneliti menyebutkan bahwa temuan keramik tersebut menjadi bukti nyata adanya interaksi ekonomi yang luas.
Menurutnya, data ini penting tidak hanya bagi kajian arkeologi, tetapi juga untuk menelusuri sejarah perdagangan di tingkat regional.
Meski menyimpan potensi besar, penelitian lanjutan di Gunung Tangkil menghadapi berbagai kendala.
Lokasinya yang berada di dalam Kawasan Konservasi Alam Sukawayana membuat aktivitas penggalian arkeologi harus dibatasi dan tidak boleh merusak vegetasi.
Setiap pembukaan lahan wajib mengikuti aturan lingkungan yang ketat.
Irfan menuturkan, hingga saat ini tim belum dapat melakukan ekskavasi secara menyeluruh karena status kawasan sebagai hutan lindung.
Bahkan, untuk membuka lahan sekalipun diperlukan koordinasi intensif dengan pihak kehutanan.
“Tantangannya, kita belum bisa melakukan ekskavasi penuh karena areanya hutan lindung. Motong lahan saja tidak boleh. Jadi harus diskusi dulu dengan pihak kehutanan,” jelas Irfan.
Ia juga menilai kedekatan Gunung Tangkil dengan kawasan Ciletuh Geopark semakin menegaskan hubungan erat antara bentang alam dan kebudayaan masa lalu.
Dengan mempertimbangkan status konservasinya, BRIN merekomendasikan agar kawasan ini ditetapkan sebagai situs warisan budaya dengan akses terbatas.
Para peneliti meyakini Gunung Tangkil memiliki keterkaitan dengan pusat-pusat megalitik lain di Jawa Barat.
Hubungan tersebut menjadikan Gunung Tangkil sebagai salah satu lokasi penting untuk memahami jaringan budaya prasejarah di wilayah ini, sebagaimana dilaporkan Arkeonews.
Masyarakat setempat hingga kini masih memuliakan Gunung Tangkil dan secara berkala menjalankan ritual leluhur di sejumlah titik di kawasan tersebut.
Para peneliti menilai keberlangsungan tradisi ini mencerminkan kuatnya ikatan spiritual dan budaya antara komunitas lokal dengan Gunung Tangkil.
Kondisi tersebut sekaligus memperkuat dasar untuk mendorong pengakuan resmi serta perlindungan hukum bagi kawasan ini sebagai situs warisan budaya.
Seiring dengan semakin kuat dan melimpahnya bukti temuan, peneliti BRIN bersama para tokoh budaya secara terbuka mendesak pemerintah daerah maupun pusat agar menetapkan Gunung Tangkil sebagai situs warisan budaya.
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, Fajar, menjelaskan bahwa kajian ini awalnya hanya berangkat dari kegiatan verifikasi rutin museum.
Namun, hasil penelitian justru mengarah pada indikasi kuat adanya situs arkeologi penting yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
“Kepada pemerintah, kita mengusulkan Gunung Tangkil jadi situs cagar budaya,” ujar Fajar.
Pada awal September mendatang, BRIN dijadwalkan memasuki tahap lanjutan penelitian.
Fase ini akan mencakup pemetaan wilayah menggunakan drone serta pemindaian LiDAR dengan cakupan yang lebih luas guna memperjelas dan mengonfirmasi berbagai struktur yang telah teridentifikasi.
Apabila seluruh temuan tersebut berhasil diverifikasi dan memperoleh perlindungan resmi, Gunung Tangkil berpeluang menjadi salah satu situs megalitik baru paling penting di Indonesia.
Keberadaan struktur batu yang kompleks di kawasan ini diyakini dapat membuka pemahaman baru mengenai teknik rekayasa kuno, jaringan perdagangan regional, hingga praktik budaya masyarakat prasejarah yang selama ratusan tahun tersembunyi.

