Sri Mulyani Ditunjuk Bank Dunia Pimpin Penggalangan Dana untuk Negara Miskin!
HAIJAKARTA.ID- Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, kembali dipercaya mengemban peran strategis di tingkat internasional.
Bank Dunia menunjuk Sri Mulyani sebagai Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) dalam proses penggalangan dana putaran ke-22 International Development Association (IDA22), program pendanaan yang ditujukan untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah.
Dalam tugas tersebut, Sri Mulyani akan bekerja bersama Menteri Keuangan Irlandia sekaligus Presiden Eurogroup, Paschal Donohoe.
Keduanya akan memimpin upaya menghimpun dukungan dari negara-negara donor agar IDA22 mampu menyediakan pembiayaan bagi puluhan negara miskin hingga tahun 2031. Penunjukan ini dilaporkan oleh Bisnis.com pada 4 Agustus 2026.
Peran Penting dalam Pendanaan Negara Berpenghasilan Rendah
International Development Association (IDA) merupakan bagian dari Grup Bank Dunia yang berfokus pada pemberian pinjaman lunak dan hibah kepada negara-negara dengan tingkat pendapatan terendah di dunia.
Melalui mekanisme penggalangan dana yang dilakukan secara berkala, IDA memperoleh komitmen pendanaan dari negara-negara donor untuk membiayai berbagai program pembangunan.
Pada putaran IDA22, hasil penggalangan dana akan menjadi penentu besarnya pembiayaan yang dapat disalurkan kepada 78 negara berpenghasilan rendah hingga 2031.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengentasan kemiskinan, memperkuat ketahanan ekonomi, meningkatkan layanan kesehatan dan pendidikan, memperluas infrastruktur, hingga membantu negara-negara menghadapi dampak perubahan iklim.
Rekam Jejak Global Sri Mulyani
Penunjukan Sri Mulyani dinilai tidak terlepas dari pengalaman panjangnya di bidang ekonomi dan pembangunan internasional.
Selain pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia, ia juga pernah menduduki posisi Managing Director sekaligus Chief Operating Officer (COO) Bank Dunia, yang membawahi operasional lembaga tersebut di berbagai negara.
Selama berada di Bank Dunia, Sri Mulyani turut mengawasi arah kebijakan berbagai program pembangunan global, termasuk pendanaan bagi negara-negara miskin melalui IDA.
Pengalaman tersebut menjadikannya salah satu figur yang memiliki pemahaman mendalam mengenai kebutuhan pembiayaan pembangunan di negara berkembang.
Saat ini Sri Mulyani juga tercatat sebagai Blavatnik World Leaders Fellow 2025-2026 di Universitas Oxford, sebuah program yang mempertemukan para pemimpin dunia untuk mengembangkan solusi atas tantangan global.
IDA Telah Salurkan Ratusan Miliar Dolar AS
Sejak didirikan pada 1960, IDA telah menjadi salah satu sumber pendanaan pembangunan terbesar bagi negara-negara termiskin di dunia.
Lembaga ini telah menyalurkan lebih dari US$632 miliar untuk mendukung berbagai proyek pembangunan di 115 negara, mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Dana tersebut diberikan dalam bentuk hibah maupun pinjaman dengan bunga rendah dan tenor panjang sehingga lebih mudah diakses oleh negara-negara berkembang.
Pengakuan atas Kredibilitas Indonesia
Penunjukan Sri Mulyani sebagai Ketua Bersama Independen IDA22 juga dipandang sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap kapasitas dan kredibilitas Indonesia dalam bidang tata kelola keuangan publik dan pembangunan ekonomi.
Dengan pengalaman panjang di pemerintahan Indonesia maupun lembaga keuangan internasional, Sri Mulyani diharapkan mampu membangun konsensus di antara negara-negara donor sehingga kebutuhan pembiayaan pembangunan bagi negara-negara berpenghasilan rendah dapat terus terjaga di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.
Peran ini sekaligus memperkuat posisi Sri Mulyani sebagai salah satu tokoh ekonomi Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam forum pembangunan internasional dan kebijakan pembiayaan global.
Bank Dunia menilai keberhasilan penggalangan dana IDA22 akan menjadi faktor penting dalam mendukung upaya pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas hidup masyarakat, serta memperkuat ketahanan ekonomi negara-negara yang paling rentan di dunia.
