Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Unesa bongkar Joki UTBK 2026 pakai AI, Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026 kembali diwarnai isu kecurangan.

Kali ini, dugaan praktik penggunaan joki berhasil diungkap oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Temuan ini menjadi perhatian publik karena menunjukkan bahwa kecurangan dalam seleksi pendidikan tinggi masih terjadi, meskipun sistem pengawasan telah diperketat.

Kronologi Kejadian

Kasus ini terdeteksi pada hari pertama pelaksanaan UTBK, Selasa (21/4/2026). Saat proses verifikasi data peserta, panitia menemukan adanya kejanggalan pada identitas salah satu peserta yang mengikuti ujian.

Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut menggunakan sistem berbasis AI, ditemukan bahwa wajah peserta yang hadir memiliki kemiripan sangat tinggi dengan data peserta lain yang pernah terdaftar sebelumnya.

Hal ini memicu kecurigaan adanya praktik penyalahgunaan identitas dalam proses pendaftaran.

Peran Teknologi AI dalam Mengungkap Kasus

Teknologi kecerdasan buatan yang diterapkan Unesa mampu mendeteksi kemiripan wajah hingga mencapai tingkat akurasi sekitar 95 persen.

Sistem ini bekerja dengan membandingkan data visual peserta dengan database yang telah tersimpan dari pendaftaran sebelumnya.

Melalui proses analisis tersebut, ditemukan adanya dua data pendaftaran yang berbeda, tetapi memiliki kemiripan wajah yang signifikan.

Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan besar foto lama digunakan kembali oleh pihak lain dengan identitas baru untuk mengikuti UTBK.

Keunggulan sistem AI ini terletak pada kemampuannya melakukan verifikasi secara cepat, akurat, dan menyeluruh, sehingga potensi kecurangan dapat dideteksi sejak tahap awal.

Penjelasan Pihak Kampus

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa pihak kampus memang mencurigai adanya penggunaan foto lama dari pendaftaran sebelumnya.

Menurutnya, teknologi AI sangat membantu dalam melakukan verifikasi data secara presisi sebelum ujian berlangsung.

Dengan adanya sistem ini, panitia tidak hanya mengandalkan pengawasan manual, tetapi juga didukung oleh analisis berbasis data yang lebih objektif.

Ia juga menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam menjaga kualitas dan integritas proses seleksi mahasiswa baru.

Modus Kecurangan yang Terungkap

Dari hasil analisis sementara, modus yang digunakan diduga melibatkan penggunaan foto lama dari data pendaftaran tahun sebelumnya.

Foto tersebut kemudian dipakai kembali oleh pihak lain dengan identitas berbeda untuk mengikuti ujian.

Praktik ini mengarah pada penggunaan joki, di mana seseorang menggantikan peserta asli untuk mengikuti ujian.

Modus seperti ini menunjukkan bahwa pelaku kecurangan semakin kreatif dalam mencari celah dalam sistem seleksi.

Dampak dan Konsekuensi

Kecurangan dalam UTBK tidak hanya merugikan peserta lain yang mengikuti ujian secara jujur, tetapi juga dapat merusak kredibilitas sistem seleksi nasional.

Peserta yang terbukti melakukan pelanggaran berpotensi didiskualifikasi dan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Selain itu, tindakan tersebut juga dapat berdampak jangka panjang terhadap reputasi akademik individu yang terlibat.

Upaya Pencegahan ke Depan

Pihak Unesa menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan sistem pengawasan berbasis teknologi.

Penggunaan AI akan terus dikembangkan dan diintegrasikan dengan sistem lainnya guna mendeteksi berbagai bentuk kecurangan yang semakin kompleks.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain dalam memperkuat sistem pengawasan UTBK di masa mendatang.

Imbauan kepada Peserta

Kampus mengimbau seluruh peserta UTBK untuk mengikuti proses seleksi secara jujur dan sesuai aturan. Kejujuran menjadi aspek penting dalam menentukan kualitas calon mahasiswa yang akan diterima.

Peserta diingatkan untuk tidak tergiur menggunakan jasa joki atau melakukan manipulasi data, karena risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan sesaat.

Terungkapnya kasus ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan menjadi solusi efektif dalam menjaga integritas sistem seleksi pendidikan tinggi.

Kolaborasi antara teknologi dan pengawasan manusia diharapkan mampu menciptakan proses seleksi yang lebih adil, transparan, dan bebas dari kecurangan.