Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Saur on the road di Jombang menjadi sorotan publik setelah kegiatan tersebut diramaikan sound horeg dan aksi penari seksi saat bulan Ramadhan.

Acara yang berlangsung di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, itu viral di media sosial dan menuai kontroversi karena dinilai tidak sesuai dengan suasana bulan puasa.

Kegiatan yang digelar sejak dini hari hingga pagi tersebut diikuti ribuan peserta pawai motor. Dalam sejumlah video yang beredar di TikTok, tampak iring-iringan kendaraan memadati jalan dengan dentuman sound system berukuran besar.

Tak hanya itu, dalam salah satu rekaman terlihat seorang penari berpakaian ketat berjoget di depan sound system milik Aprelia Production dan menerima saweran dari penonton.

Sekretaris Desa Jatibanjar, Hengki, membenarkan kegiatan berlangsung di jalan penghubung desanya dengan Desa Sumbergondang. Namun ia menegaskan acara itu bukan agenda resmi pemerintah desa.

“Jogetan seksi semestinya tidak pantas ada di bulan puasa. Itu jelas tidak sesuai,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Tidak Berizin, Polisi Siapkan Antisipasi

Pemilik Aprelia Production, Aprelia, mengungkapkan lebih dari 10 sound horeg turut meramaikan kegiatan tersebut. Ia menyebut tidak ada pihak yang secara khusus menyewa sound system.

“Itu tidak ada yang menyewa, memang sering sahur on the road keliling lalu kumpul di situ,” jelasnya.

Aprelia juga mengakui adanya penari di depan sound miliknya, namun menegaskan tidak pernah membawa atau menyewa penari tersebut.

“Tiba-tiba ada banci itu yang joget-joget depan salon. Sebelum kami datang, dia sudah di lokasi,” tandasnya.

Kapolsek Ploso, Kompol Achmad Chairuddin, menegaskan kegiatan tersebut tidak mengantongi izin dari kepolisian maupun pemerintah desa setempat.

“Tanpa izin, kami juga tidak mengizinkan. Termasuk kadesnya (Jatibanjar) juga tidak tahu, tahunya dari warganya,” tegasnya dikutip dari Detikcom, Selasa (24/2/2026).

Menurut Chairuddin, kegiatan serupa pernah terjadi pada Minggu pertama Ramadhan 2025. Saat itu, pihak kepolisian melakukan langkah preemtif agar tidak kembali terulang pada pekan berikutnya.

Untuk Ramadan tahun ini, polisi akan melakukan patroli gabungan bersama Polsek Kabuh dan melibatkan pemerintah desa guna mencegah kegiatan tanpa izin.

“Ke depan Minggu pagi kami antisipasi patroli gabungan dengan Polsek Kabuh dan melibatkan pemerintah desa. Kami imbau masyarakat kalau jalan-jalan pagi setelah sahur tidak usah pakai sound,” jelasnya.

Chairuddin juga menyayangkan adanya aksi joget seksi dalam kegiatan tersebut.

“Informasinya itu spontan, itu diduga waria, tapi tidak etis puasa-puasa seperti itu,” tandasnya.

Reaksi Warganet

Viralnya video kegiatan tersebut memicu gelombang komentar dari warganet. Sebagian besar menyoroti citra Jombang yang dikenal sebagai kota santri dan mempertanyakan kesesuaian acara tersebut dengan nilai-nilai Ramadhan.

Salah satu akun menyinggung identitas daerah tersebut sebagai kota religius.

“Jombang kota beriman kota santri lho weeeeeeehhh angel iki santri e nag ndi??” tulis akun @monamochi***

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, komentar tersebut bermakna: “Jombang kota beriman, kota santri, lho. Lha ini santrinya di mana?” Kalimat itu bernada sindiran karena aksi yang terjadi dinilai tidak mencerminkan identitas kota santri.

Komentar lain menyoroti sosok penari dalam video yang dianggap memicu kontroversi.

“Itu kayak lain cewe bener gak sih atau aku salah liat ya ” tulis akun @Nuriynti***

Warganet tersebut mempertanyakan identitas penari yang tampil dalam acara tersebut.

Senada dengan itu, akun lain juga melontarkan komentar bernada satire.

“Ya ampun kirain bidadari rupanya bidadara” tulis akun @flara***

Sementara itu, ada pula yang secara tegas mengaitkan peristiwa tersebut dengan suasana bulan suci.

“Whaduhhhh …. sama sekali tidak selaras dengan kesucian bulan Ramadhan” tulis @Jasa Jahit Dy Coll***

Secara umum, komentar warganet didominasi nada kritik dan keprihatinan. Mereka menilai kegiatan tersebut kurang mencerminkan suasana Ramadan serta identitas Jombang yang selama ini dikenal sebagai kota dengan nuansa religius yang kuat.