Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemerintah tengah mengkaji wacana siswa belajar dari rumah mulai April 2026.

Wacana ini muncul sebagai bagian dari strategi nasional dalam menekan konsumsi energi di tengah situasi global yang memengaruhi pasokan dan harga energi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa kebijakan efisiensi energi harus disusun secara matang dan berbasis data.

Hal ini penting agar langkah yang diambil tidak menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi masyarakat, khususnya di sektor pendidikan dan layanan publik.

Menurutnya, pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi referensi penting dalam merancang kebijakan serupa.

Pemerintah ingin memastikan bahwa jika PJJ diterapkan, kualitas pembelajaran tetap terjaga dan tidak menghambat proses pendidikan siswa.

PJJ Disesuaikan dengan Jenis Mata Pelajaran

Dalam skema yang sedang dibahas, tidak semua kegiatan belajar akan dilakukan secara daring.

Pemerintah mempertimbangkan pendekatan fleksibel, di mana mata pelajaran yang bersifat praktik seperti laboratorium atau keterampilan tertentu tetap dilaksanakan secara tatap muka.

Sementara itu, materi teori akan lebih diarahkan untuk dilakukan secara online guna mengurangi mobilitas siswa dan penggunaan energi, terutama pada sektor transportasi dan operasional sekolah.

Akses Internet dan Program MBG Jadi Perhatian

Selain teknis pembelajaran, pemerintah juga menyoroti beberapa aspek penting lain yang perlu disiapkan. Di antaranya adalah:

  • Distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang harus tetap berjalan meski siswa belajar dari rumah
  • Ketersediaan akses internet bagi siswa di berbagai daerah agar tidak terjadi kesenjangan pembelajaran

Hal ini menjadi perhatian serius karena keberhasilan PJJ sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur digital dan dukungan logistik.

Strategi Efisiensi Energi Lintas Sektor

Kebijakan ini bukan hanya menyasar sektor pendidikan. Pemerintah juga merancang langkah efisiensi energi di berbagai instansi, seperti:

  • Penerapan sistem kerja fleksibel (flexible working) bagi ASN
  • Optimalisasi penggunaan platform digital dalam pelayanan publik
  • Pembatasan perjalanan dinas

Koordinasi antar kementerian dan lembaga disebut menjadi kunci utama agar kebijakan ini berjalan efektif tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat.

Masih Tahap Wacana, Belum Diputuskan

Meski direncanakan mulai April 2026, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan final.

Berbagai aspek masih dibahas secara mendalam sebelum implementasi dilakukan.

Tren Penghematan Energi di Asia Tenggara

Langkah efisiensi energi juga dilakukan oleh sejumlah negara di Asia Tenggara. Kondisi global, termasuk terbatasnya distribusi minyak di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, mendorong banyak negara mengambil kebijakan serupa.

Beberapa di antaranya:

  • Filipina menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu di kantor pemerintahan
  • Thailand dan Vietnam mendorong sistem kerja dari rumah serta pembatasan perjalanan
  • Myanmar memberlakukan kebijakan berkendara bergantian untuk menghemat bahan bakar

Kondisi ini menunjukkan bahwa efisiensi energi menjadi isu regional yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Wacana pembelajaran dari rumah kembali mencuat sebagai bagian dari strategi penghematan energi nasional.

Meski belum final, pemerintah berupaya menyeimbangkan antara efisiensi energi dan kualitas pendidikan agar keduanya tetap berjalan optimal.