sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Pembahasan tentang sejarah Lebaran Ketupat selalu menarik perhatian masyarakat, terutama saat memasuki bulan Syawal.

Tradisi ini tidak hanya identik dengan sajian ketupat, tetapi juga memiliki nilai filosofis dan sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Indonesia.

Mengutip sumber dari NU Online, tradisi Lebaran Ketupat diyakini telah ada sejak masa Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang memanfaatkan budaya lokal sebagai media dakwah.

“Tradisi ini dipercaya sudah berkembang sejak era Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga yang menjadikan budaya sebagai sarana penyebaran ajaran Islam,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam referensi tersebut.

Sejarah Lebaran Ketupat dan Peran Sunan Kalijaga

Dalam konteks sejarah Lebaran Ketupat, Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal masyarakat Jawa.

Ketupat kemudian dijadikan simbol pendekatan dakwah yang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Dengan cara ini, ajaran Islam dapat menyatu tanpa menghilangkan unsur budaya yang telah ada sebelumnya.

Tradisi ini pun terus berkembang dan menjadi bagian penting dari perayaan Idulfitri di berbagai daerah di Indonesia.

Makna Filosofis Ketupat

Selain memahami sejarah Lebaran Ketupat, masyarakat juga perlu mengetahui makna filosofis di balik makanan khas tersebut.

Secara bahasa, kata “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa diartikan sebagai ngaku lepat, yang bermakna mengakui kesalahan.

Makna tersebut mencerminkan semangat saling memaafkan setelah Hari Raya Idulfitri.

Ketupat dimaknai sebagai simbol pengakuan kesalahan sekaligus ajakan untuk memperbaiki diri setelah Ramadan

Tak hanya itu, bentuk ketupat yang dibungkus janur juga memiliki filosofi tersendiri.

Anyaman janur melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isi nasi putih menggambarkan hati yang kembali bersih setelah memohon ampun.

Tradisi sejarah Lebaran Ketupat juga sarat dengan nilai sosial dan keagamaan.

Perayaan ini identik dengan kegiatan berbagi makanan, mempererat silaturahmi, serta memperkuat solidaritas antarwarga.

“Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan, saling berbagi, serta memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat,” tulis keterangan tertulis dari Kementerian Agama RI.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya Islam di Indonesia berkembang dengan pendekatan yang menekankan kebersamaan dan kepedulian sosial.

Jadwal Lebaran Ketupat 2026

Dalam pembahasan sejarah Lebaran Ketupat, waktu perayaan juga menjadi hal penting.

Lebaran Ketupat biasanya dirayakan pada hari kedelapan bulan Syawal, setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah enam hari.

Pada tahun 2026, terdapat perbedaan tanggal perayaan:

  • 27 Maret 2026 (versi Muhammadiyah)
  • 28 Maret 2026 (versi pemerintah)

Perbedaan ini terjadi karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang tidak sama, namun tetap menjadi hal yang wajar dalam praktik keagamaan di Indonesia.