Siswa SMP di Siak Tewas Saat Uji Coba Senjata Rakitan, Diduga Hasil Eksperimen 3D
HAIJAKARTA.ID – Peristiwa tragis terjadi di Kabupaten Siak, Riau, pada Kamis (9/4/2026). Seorang siswa kelas IX SMP Islamic Center Siak bernama Muhammad Aqil meninggal dunia setelah mengalami luka fatal akibat ledakan senjata rakitan yang diuji coba di lingkungan sekolah.
Insiden tersebut bahkan disaksikan oleh sejumlah teman korban yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Siswa SMP di Siak Tewas Saat Uji Coba Senjata Rakitan
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa senjata tersebut merupakan hasil eksperimen yang dibuat menggunakan teknologi printer 3D. Saat ini, kasus tersebut tengah ditangani oleh Satreskrim Polress Siak.
Berdasarkan rekaman video yang dilihat oleh haijakarta.id, korban terlihat tengah melakukan uji coba senjata di lapangan terbuka sekolah dan disaksikan oleh beberapa siswa lainnya.
Namun, saat senjata tersebut diuji, tiba-tiba terjadi ledakan yang membuat korban terpental ke belakang dan langsung tidak sadarkan diri.
Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan akibat luka parah yang dialami.
Polisi Ungkap Penyebab Kematian
Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra, menjelaskan bahwa korban meninggal akibat luka serius dibagian kepala.
“Jadi korban meninggal dunia akibat adanya suatu benda yang mengarah kepada kepalanya, sehingga itu tembus kepada, ya adanya ledakan ya, ledakan itu menyebabkan juga sampai ke kepala jadi itu yang menyeybabkan kematianya di situ karena memang di daerah kepala,” ungkap Zahwani Pandra dikutip Jumat, (10/4/2026).
Ia menambahkan, bahwa dari hasil pengamatan di lokasi kejadian, korban langsung tidak sadarkan diri setelah insiden terjadi.
“Korban itu tidak sadarkan diri dan langsung dibawa, dan tembus sampai di wilayah kepala, artinya ini yang menyebabkan kematiannya,” jelasnya.
Barang Bukti dan Penyelidikan
Polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk senjata rakitan yang digunakan dalam percobaan tersebut.
“Barang bukti yang tentunya tengah kami amankan salah satunya adalah senjata rakitan, yang dibuat dari kayu-kayu, kemudian diberi semacam mesiu, dan ini yang tentu kami dalami lebih detail lagi,” kata Zahwani.
Ia menjelaskan bahwa senjata tersebut dibuat dari bahan sederhana seperti kayu dan pipa, serta menggunakan mesiu yang masih ditelusuri asal-usulnya.
“Mesiu ini tentunya akan kami dalami diperoleh dari mana. Kami telag mengumpulkan bukti-bukti dan memeriksa saksi-saksi, termasuk guru dan teman-teman terdekat,” tambahnya.
Menurut polisi, percobaan tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan korban. Korban diketahui merupakan siswa yang aktif dan pernah mengikuti berbagai kegiatan ilmiah remaja, termasuk lomba robotik di tingkat Universitas Riau.
“Ini percobaan pertama kali, entah dapat ide dari mana. Dia ingin menjelaskan dengan istilah tembakan 3D atau ‘3D masketir’. Korban ini cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan karya ilmiah remaja,” tuturnya.
Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan mengumpulkan barang bukti serta memeriksa sejumlah saksi, termasuk guru dan teman-teman korban, untuk mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian.
Reaksi Warganet
Peristiwa ini memicu beragam reaksi dari warganet di media sosial. Banyak yang menyoroti aspek keselamatan dalam kegiatan eksperimen di lingkungan sekolah.
Sejumlah warganet mempertanyakan pengawasan dari pihak sekolah terhadap aktivitas berisiko tersebut.
“SMP mana ini ngasi tugas/ngebolehin muridnya bikin SENJATA?? Tanpa safety bikin senjata api loh, bukan main,” tulis akun @rahmadia***
Ada pula yang memberikan pandangan lebih panjang terkait pentingnya batasan dalam eksperimen sains di tingkat pendidikan dasar.
“Dalam sains, eksperimen itu memang inti. Tapi di level pendidikan apalagi masih SMP, eksperimen itu nggak bisa dilepas jadi sekadar ‘ide bebas’ tanpa kontrol. Harus ada batasan yang jelas antara kreativitas dan risiko keselamatan,” tulis akun @windadwiard***
Warganet tersebut juga menekankan bahwa peran guru sangat penting dalam menyaring ide proyek siswa agar tidak membahayakan.
Sementara itu, komentar lain menilai praktik berisiko seperti ini seharusnya tidak dilakukan di tingkat SMP.
“Guru seharusnya tidak mengizinkan siswanya untuk praktik yang mengundang bahaya. Itu bukan untuk level SMP,” tulis akun @nurhayati***

