sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Seorang guru bernama Syamsiah, yang akrab disapa Bu Atun, justru menunjukkan sikap penuh kebesaran hati dengan memilih memaafkan para siswa yang terlibat.

Kasus guru SMAN 1 Purwakarta yang dianiaya murid ini bermula ketika sembilan siswa melakukan tindakan tidak pantas hingga berujung pada penyebaran video di dunia maya.

Meski menjadi korban, Syamsiah menegaskan tidak ingin membawa persoalan ini ke ranah hukum.

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah memaafkan para siswa dan bahkan mendoakan mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Saya sudah benar-benar memaafkan, bahkan mendoakan mereka. Mereka juga menangis karena menyadari kesalahannya. Tugas saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Pilih Memaafkan Demi Pendidikan Karakter

Dalam kasus guru SMAN 1 Purwakarta yang dianiaya murid, Syamsiah menilai bahwa peran guru tidak hanya memberikan hukuman, tetapi juga membentuk karakter siswa.

Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Menurutnya, pendekatan pendidikan yang tepat jauh lebih penting dibandingkan sekadar sanksi.

“Saya tidak akan melaporkan kejadian ini. Pola pikir saya adalah membimbing anak didik agar menjadi pribadi yang berakhlak dan selamat dunia akhirat. Yang salah tidak selamanya salah, dan yang nakal tidak selalu nakal. Semua butuh proses,” tuturnya.

Kronologi Guru SMAN 1 Purwakarta Dianiaya Murid

Insiden guru SMAN 1 Purwakarta yang dianiaya murid terjadi pada Kamis (16/4/2026) di kelas XI IPS setelah kegiatan belajar mengajar selesai.

Saat itu, Syamsiah mengaku tidak mengetahui bahwa interaksi dengan para siswa direkam.

Ia menjelaskan bahwa awalnya para siswa bersikap biasa, bahkan sempat bersalaman dan mengajak berfoto bersama.

“Saya tidak menyadari kalau direkam. Awalnya mereka bersalaman, bahkan ingin berfoto bersama. Saya menghargai mereka, padahal saat itu saya harus mengajar di kelas lain,” jelasnya.

Namun, rekaman tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Tetap Kuat Hadapi Situasi

Meski menjadi korban dalam kasus guru SMAN 1 Purwakarta yang dianiaya murid, Syamsiah mengaku berusaha tetap tegar menghadapi situasi yang terjadi. Ia tidak menampik bahwa perasaan sedih sempat muncul, namun ia memilih untuk mengelolanya dengan baik.

Menurutnya, keimanan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi cobaan tersebut.

“Rasa sedih itu wajar, tetapi saya menjadikan keimanan sebagai penawar untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya bisa selamat dunia dan akhirat,” ungkapnya.