sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Pencabulan SAM yang menyeret seorang pendakwah berinisial SAM mulai terungkap ke publik.

Dugaan tindakan asusila tersebut disebut memiliki pola berulang dan melibatkan sejumlah korban dari kalangan santri laki-laki.

Perwakilan pihak korban, HB Mahdi, mengungkapkan bahwa dalam kasus pencabulan SAM, mayoritas korban dijanjikan akan diberangkatkan ke Mesir sebelum akhirnya mengalami dugaan pelecehan.

Awal Mula Kasus Pencabulan SAM

Menurut Mahdi, informasi awal terkait pencabulan SAM diterimanya pada 13 November 2025 sekitar pukul 03.00 WIB melalui sambungan telepon.

Ia mendapat permintaan untuk membantu menangani dugaan kasus asusila yang melibatkan seorang ustaz.

“Saya menanyakan siapa sosok ustaz tersebut. Disebutkan nama Ahmad Misri. Saya mengenalnya, tetapi sudah sekitar 10 tahun tidak bertemu,” ujar Mahdi.

Awalnya, ia mengaku menanggapi laporan tersebut secara biasa. Namun seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa kasus ini tidak sederhana.

Dalam proses penelusuran kasus pencabulan SAM, Mahdi sempat dimasukkan ke dalam sebuah grup komunikasi. Namun selama beberapa hari, tidak ada perkembangan berarti.

Situasi berubah ketika ia menerima potongan video dari salah satu pihak yang membuatnya terkejut.

Dari situ, ia mulai menelusuri rekaman lain dan menemukan sejumlah kejanggalan hingga memutuskan bertemu langsung dengan korban.

Pertemuan pertama dilakukan pada 17 November 2025 di Depok, yang turut dihadiri sejumlah pihak.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula dugaan kejadian serupa yang disebut pernah terjadi pada tahun 2021.

Korban di Luar Negeri

Dalam perkembangan kasus pencabulan SAM, salah satu korban diketahui berada di Mesir dan masih berstatus di bawah umur.

Mahdi mengaku langsung berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan perlindungan korban.

“Sekitar setengah jam kemudian saya menerima telepon dari KBRI. Korban langsung mendapat perhatian dan pengawasan hingga akhirnya kembali ke Indonesia,” tuturnya.

Hasil penelusuran mengungkap adanya pola serupa dalam kasus pencabulan SAM. Para korban disebut merupakan santri laki-laki yang dijanjikan program keberangkatan ke Mesir.

Dugaan tindakan bermula saat korban masih berusia sekitar 15 tahun di sebuah pesantren di Purbalingga.

Pelaku disebut menawarkan program tersebut, kemudian memberikan alasan pemeriksaan fisik yang berujung pada tindakan tidak pantas.

Selain itu, terdapat dugaan kejadian lain dengan modus pelatihan kemampuan berbicara sebelum keberangkatan.

Korban Alami Trauma

Mahdi juga mengungkapkan bahwa beberapa korban dalam kasus pencabulan SAM mengalami trauma berat.

Dalam pertemuan dengan korban lain di Bogor, korban menunjukkan penolakan keras dan mengaku kehilangan kepercayaan terhadap sosok ustaz.

Dari hasil penelusuran, setidaknya terdapat tiga korban dengan pola serupa yang tidak saling mengenal satu sama lain.