Jakarta Mulai Kemarau, Tapi Hujan Masih Turun? Ini Penjelasan Lengkap dari BMKG
HAIJAKARTA.ID- Jakarta mulai kemarau, tapi hujan masih turun? Warga Jakarta belakangan ini dibuat bingung oleh kondisi cuaca yang tidak menentu.
Di satu sisi, musim kemarau disebut sudah mulai datang, tetapi di sisi lain hujan masih sering mengguyur, terutama pada sore hingga malam hari.
Fenomena ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang cukup kompleks dan berkaitan dengan dinamika atmosfer global maupun faktor lokal.
Jakarta Mulai Masuk Musim Kemarau Secara Bertahap
Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau di Jakarta tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah.
Peralihan musim berlangsung bertahap, tergantung kondisi geografis dan dinamika atmosfer di masing-masing daerah.
Jakarta Utara disebut sudah lebih dahulu memasuki musim kemarau. Sementara itu:
- Jakarta Pusat diperkirakan mulai kemarau pada dasarian kedua Mei
- Jakarta Selatan menyusul pada dasarian ketiga Mei
Perbedaan ini menunjukkan bahwa istilah “musim kemarau” bukan berarti hujan langsung berhenti sepenuhnya, melainkan fase transisi dari musim hujan ke musim kering.
Mengapa Hujan Masih Terjadi Saat Kemarau?
Fenomena hujan di tengah awal musim kemarau dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer global.
Salah satunya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), yaitu gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di wilayah tropis dan dapat meningkatkan pembentukan awan hujan.
MJO, terdapat juga gelombang ekuatorial Rossby yang turut berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas hujan di wilayah Indonesia.
Kombinasi kedua fenomena ini menyebabkan curah hujan masih terjadi meskipun secara klimatologis sudah memasuki musim kemarau.
Menurut Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, kondisi ini merupakan hal yang wajar terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia.
Peran Panas Matahari dan Proses Konveksi
Selain faktor global, kondisi lokal juga memiliki peran besar dalam terbentuknya hujan. Pada pagi hingga siang hari, intensitas radiasi Matahari di Jakarta cukup tinggi. Hal ini menyebabkan suhu udara meningkat signifikan.
Peningkatan suhu ini memicu proses konveksi, yaitu naiknya udara panas ke atmosfer.
Saat udara naik dan mendingin, terbentuklah awan-awan hujan yang kemudian berkembang menjadi hujan lokal pada sore hingga malam hari.
Inilah alasan mengapa masyarakat sering merasakan pola cuaca:
- Pagi hingga siang: panas terik
- Sore hingga malam: hujan tiba-tiba
Karakteristik Hujan di Masa Peralihan
Hujan yang terjadi pada masa peralihan musim memiliki ciri khas tersendiri. BMKG menjelaskan bahwa hujan ini umumnya:
- Bersifat lokal (tidak merata di semua wilayah)
- Berdurasi singkat
- Berintensitas sedang hingga lebat
- Berpotensi disertai kilat dan angin kencang
Kondisi ini berbeda dengan hujan di puncak musim hujan yang biasanya lebih merata dan berlangsung lebih lama.
Kombinasi Suhu Panas dan Kelembapan Tinggi
Meskipun memasuki kemarau, tingkat kelembapan udara di Jakarta masih relatif tinggi. Hal ini menjadi faktor penting dalam pembentukan awan hujan.
Kombinasi antara:
- Suhu panas akibat radiasi Matahari
- Kelembapan udara yang masih cukup tinggi
menciptakan kondisi atmosfer yang ideal untuk terbentuknya hujan konvektif. Oleh karena itu, hujan tetap bisa terjadi meskipun curah hujan secara umum mulai menurun.

