Usia Pipa Air Jakarta Capai 100 Tahun, Rano Ingatkan Potensi Jalan Ambles di Berbagai Wilayah
HAIJAKARTA.ID – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengingatkan potensi terjadinya jalan ambles atau sinkhole di berbagai wilayah Jakarta masih dapat terjadi.
Menurutnya, salah satu penyebab yang perlu diwaspadai adalah kondisi jaringan pipa air milik PAM Jaya yang sebagian telah berusia hingga 100 tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Rano saat menanggapi peristiwa jalan ambles yang terjadi di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Sellatan. Ia menyebut banyak infastruktur bawah tanah di Jakarta yang sudah berusia sangat tua sehingga rentan mengalami kerusakan.
“Karena secara nyata saya pernah agak cukup kaget di saat PAM Jaya kita waktu itu masih PD PAM mempresentasikan bahwa mungkin hampir rata-rata pipa air di Jakarta itu usianya 100 tahun,” kata Rano pada Sabtu, (30/5/2026).
Infastruktur Tua Berpotensi Picu Sinkhole
Rano menjelaskan, pipa air yang telah beroperasi selama satu abad tentu mengalami penurunan kualitas dan berisiko mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya jalan ambles di permukaan.
“Anda bisa bayangin usia 100 tahun pasti akan rapuh kan. Jadi jangan aneh kalau Jakarta akan terjadi amblas seperti itu karena Thailand pernah terjadi, Tokyo juga pernah terjadi, Thailand bahkan ekstrem di bawahnya ada MRT,” kata Rano.
Menurut dia, fenomena sinkhole bukan hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga pernah dialami sejumlah kota besar di dunia yang memiliki infastruktur bawah tanah kompleks dan berusia tua.
Rano Ingatkan Potensi Jalan Ambles di Berbagai Wilayah
Rano menegaskan potensi jalan ambles tidak hanya berada di satu lokasi tertentu. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan secara berkelanjutan.
Ia juga menilai keterlibatan masyarakat sangat penting untuk membantu mendeteksi lebih dini apabila terdapat indikasi kerusakan infastruktur di lingkungan sekitar.
“Ok saya orang yang tidak suka menutup apa harus kita sampaikan, karena itu kita memerlukan transparansi dan keterlibatan publik. Mungkin saja terjadi sinkhole-sinkhole gitu,” katanya.
Menurutnya, keterbukaan informasi mengenai kondisi infastruktur perlu dilakukan agar masyarakat memahami risiko yang ada dan dapat berpartisipasi daam upaya pencegahan.
Dalam kesempatan tersebut, Rano menilai sosialisasi kepada masyarakat perlu diperketat agar warga memahami potensi risiko yang dapat muncul akibat kondisi infastruktur yang menua.
“Nah itulah makanya di sini perlu sosialisasi. Jadi sangat mungkin di Jakarta bukan hanya di satu tempat,” ucapnya.
Ia berharap masyarakat dapat segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kerusakan jalan, penurunan permukaan tanah, kebocoran pipa, atau kondisi lain yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Bina Marga Masih Kekurangan Personel
Rano juga mengungkapkan bahwa Dinas Bina Marga DKI Jakarta saat ini masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia untuk melakukan pemantauan infrastruktur secara optimal di seluruh wilayah Jakarta.
“Karena seperti teman-teman ketahui PJLP kita di Bina Marga itu kekurangannya hampir 3.000 orang, sementara untuk merekrut kita punya keterbatasan misal seperti itu,” kata dia.
Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta tetap berupaya melakukan pengawasan terhadap kondisi infrastruktur kota. Rano berharap masyarakat dan media dapat terus membantu pemerintah dengan memberikan informasi apabila menemukan potensi kerusakan di lapangan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan media menjadi kunci untuk mendeteksi kerusakan lebih dini sekaligus mencegah terjadinya insiden yang lebih besar di masa mendatang.

