Viral Wanita Tetap Nonton Konser Meski Campak, Dokter Sebut Masih Sangat Menular
HAIJAKARTA.ID – Viral di media sosial Threads seorang wanita di Jakarta yang mengaku tetap menghadiri konser meski sedang mengalami campak. Unggahan tersebut menuai kritik dari warganet karena dianggap berpotensi membahayakan orang lain akibat tingginya risiko penularan penyakit tersebut.
Dalam unggahannya yang kini telah dihapus, wanita tersebut mengaku mengalami ruam pada tubuhnya sekitar tiga hari sebelum konser berlangsung. Ia bahkan menyebut kondisinya saat itu “menular banget.”
Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan pengguna media sosial. Sejumlah warganet menyayangkan keputusan wanita tersebut yang tetap datang ke acara yang dihadiri banyak orang meski mengetahui dirinya sedang sakit.
“Ada yang sempat lihat threads ini? Waktu mau dibaca malah hilang. Emang bolehkah nonton konser offline dengan kondisi campak seperti ini?” tulis salah satu akun di Threads, pada Rabu, (3/6/2026).
“Mana ada campak 3 hari sembuh ga pake masker pula, kalo ikutan sing along kebayang dropletnya terbang kemana2,” tulis akun lainnya.
“Padahal dia udah bilang ‘menular banget’ dikiranya badan udah nggak merah, udah nggak nular gitu?! Semoga nggak ada ibu hamil di deket dia yaa,” tulis akun lain.
Dokter Sebut Masih Berada di Masa Penularan
Menanggapi viralnya kasus tersebut, Ketua Satgas Vaksinasi PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, SpPD-KAI, FINASIM, mengatakan seseorang yang baru mengalami ruam campak tiga hari sebelum konser masih sangat mungkin menularkan virus kepada orang lain.
“Ya, pada saat menonton konser ia sangat besar kemungkinan masih menularkan. Masa menular campak berlangsung kira0kira 4 hari sebelum ruam muncul sampai 4 hari sesudah ruam muncul,” kata dr Sukamto pada Rabu, (3/6/2026).
Menurutnya, jika ruam baru muncul tiga hari sebelum konser, maka saat menghadiri acara tersebut penderita justru masih berada dalam periode penularan tertinggi.
“Jadi bila ruam baru keluar H-3 sebelum konser, pada hari-H ia justru masih berada dalam puncak masa penularan. bahkan periode paling infeksius adalah beberapa hari menjelang dan sesudah ruam timbul,” imbuhnya.
Risiko Penularan Sangat Tinggi di Area Konser
dr Sukamto menjelaskan virus campak dapat menyebar melalui percikan droplet maupun aerosol saat seseorang batuk, bersin, bahkan berbicara. Karena itu, penularan tidak memerlukan kontak fisik secara langsung.
Menurutnya, kondisi konser yang berlangsung di ruang tertutup dengan jumlah orang yang banyak justru meningkatkan risiko penyebaran virus.
“Risikonya sangat tinggi. Campak adalah salah satu penyakit yang paling cepat menular yang kita kenal. Satu orang yang sakit bisa menulari sekitar 12-18 orang lain yang belum kebal,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa virus campak dapat bertahan di udara meskipun penderita sudah meninggalkan lokasi.
“Virus campak pun mampu bertahan melayang di udara hingga sekitar 2 jam setelah penderitanya meninggalkan ruangan,” sambungnya.
Dengan kondisi area konser yang tertutup, padat pengunjung, ventilasi terbatas, dan berlangsung selama berjam-jam, menurut dr Sukamto situasi tersebut menjadi lingkungan yang sangat ideal untuk terjadinya penularan penyakit.
Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala campak atau penyakit menular lainnya diimbau untuk membatasi aktivitas di ruang publik dan menghindari kerumunan hingga masa penularan berakhir demi mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain.

