sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gerakan tanah yang dapat terjadi di sejumlah wilayah Jakarta sepanjang Juli 2026.

Peringatan ini dikeluarkan menyusul prakiraan kondisi cuaca dan analisis kerentanan wilayah yang menunjukkan adanya sembilan kecamatan dengan potensi pergerakan tanah, terutama saat curah hujan berada di atas normal atau terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Berdasarkan informasi yang dirilis BPBD DKI Jakarta dan mengacu pada data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gerakan tanah berada di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut diminta lebih waspada terhadap tanda-tanda awal pergerakan tanah guna mengurangi risiko terjadinya bencana.

Sembilan Kecamatan Masuk Zona Potensi Gerakan Tanah

BPBD mencatat terdapat sembilan kecamatan yang masuk dalam wilayah berpotensi mengalami gerakan tanah selama Juli 2026.

Di wilayah Jakarta Selatan, kawasan yang masuk dalam daftar tersebut meliputi:

  • Cilandak
  • Jagakarsa
  • Kebayoran Baru
  • Kebayoran Lama
  • Mampang Prapatan
  • Pasar Minggu
  • Pesanggrahan

Sementara itu, di Jakarta Timur terdapat dua kecamatan yang juga perlu meningkatkan kewaspadaan, yaitu:

  • Kramat Jati
  • Pasar Rebo

Wilayah-wilayah tersebut memiliki karakteristik geologi dan topografi tertentu yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pergerakan tanah ketika dipicu oleh hujan lebat yang berlangsung dalam waktu lama.

Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu Utama

Menurut BPBD, potensi gerakan tanah dapat meningkat secara signifikan ketika curah hujan berada di atas rata-rata normal.

Air hujan yang meresap ke dalam lapisan tanah dapat mengurangi kestabilan lereng dan menyebabkan tanah bergerak, terutama pada kawasan yang memiliki kemiringan tertentu atau berada di dekat tebing dan bantaran sungai.

Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan intensitas hujan berpotensi memperbesar risiko bencana hidrometeorologi, termasuk longsor dan gerakan tanah di wilayah perkotaan.

Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

BPBD DKI Jakarta mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar lereng, tebing, bantaran sungai, maupun kawasan dengan kontur tanah menurun untuk lebih berhati-hati selama musim hujan.

Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda pergerakan tanah, seperti:

  • Munculnya retakan pada tanah atau dinding bangunan.
  • Pohon atau tiang listrik yang mulai miring.
  • Jalan atau halaman rumah mengalami penurunan permukaan.
  • Aliran air berubah secara tidak biasa.
  • Terdengar suara gemuruh dari dalam tanah saat hujan deras.

Langkah antisipasi sejak dini dinilai penting untuk mencegah terjadinya korban jiwa maupun kerugian material apabila terjadi pergerakan tanah secara tiba-tiba.

Mitigasi dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci

BPBD menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu faktor utama dalam mengurangi dampak bencana.

Selain memantau perkembangan cuaca, warga juga diimbau menjaga saluran air agar tetap berfungsi dengan baik serta menghindari aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama BPBD terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah rawan bencana guna memastikan langkah mitigasi dapat dilakukan secara cepat apabila terjadi peningkatan risiko.

Informasi peringatan dini juga akan terus diperbarui sesuai perkembangan kondisi cuaca dan hasil pemantauan lapangan.