Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Badan Gizi Nasional (BGN) tengah melakukan penataan ulang sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam proses refocusing tersebut, sejumlah sekolah swasta yang dinilai memiliki kemampuan ekonomi relatif tinggi berpotensi tidak lagi menjadi penerima program.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan MBG semakin tepat sasaran.

Pemerintah ingin memastikan manfaat program lebih banyak diterima kelompok yang memang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.

Penyisiran tersebut salah satunya menyasar sekolah swasta dengan biaya pendidikan relatif tinggi.

Berdasarkan hasil komunikasi dengan pihak sekolah, komite, dan orang tua murid, terdapat ratusan sekolah yang menyatakan tidak membutuhkan MBG.

Ratusan Sekolah Swasta Pilih Tidak Mengikuti MBG

Sudaryono menjelaskan, BGN tidak akan memaksakan program MBG kepada sekolah yang secara sukarela menyatakan tidak membutuhkan layanan tersebut.

Menurutnya, terdapat sekolah swasta yang mayoritas peserta didiknya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi cukup mampu.

Karena itu, pemberian MBG di sekolah-sekolah tersebut dinilai bukan menjadi prioritas utama dibandingkan kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan.

BGN sebelumnya juga telah menegaskan bahwa sekolah tidak boleh dipaksa menerima MBG.

Dalam keterangan resmi pada Januari 2026, BGN menyebut sekolah yang menolak karena siswanya berasal dari keluarga mampu tidak perlu dipaksakan menjadi penerima.

Sekitar 8 Juta Penerima Berpotensi Berkurang

Refocusing ini juga berpotensi memengaruhi jumlah keseluruhan penerima manfaat MBG. Sejumlah laporan menyebut sekitar 8 juta penerima berpotensi dikeluarkan dari sasaran setelah pemerintah melakukan evaluasi.

Namun, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai jumlah final. Sudaryono menegaskan BGN masih melakukan penghitungan dan pembaruan data penerima manfaat.

Dengan demikian, belum ada angka pasti mengenai berapa jumlah penerima MBG setelah proses penyisiran selesai.

Bukan Menghentikan MBG, tetapi Menata Sasaran

Penataan penerima bukan berarti pemerintah menghentikan program MBG. Langkah tersebut lebih diarahkan pada evaluasi sasaran agar penggunaan anggaran negara dapat memberikan dampak gizi yang lebih besar kepada kelompok prioritas.

Sebelumnya, BGN memang telah melakukan berbagai pembenahan dalam pelaksanaan MBG.

Saat distribusi kembali berjalan setelah masa libur sekolah pada Juli 2026, BGN menyatakan masa jeda dimanfaatkan untuk melakukan penataan dan perbaikan pelaksanaan program.

Secara umum, sasaran MBG mencakup peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD, SMP, SMA sederajat, santri, serta kelompok sasaran lainnya.

BGN juga menyatakan program tersebut mencakup sekolah nonformal, pendidikan layanan khusus, pesantren, dan sekolah keagamaan.

Pemerintah Ingin Anggaran Lebih Tepat Sasaran

Refocusing menjadi penting karena MBG merupakan program berskala nasional dengan jumlah penerima yang sangat besar.

Pada Januari 2026, BGN mencatat penerima manfaat MBG telah mencapai sekitar 58,3 juta jiwa, dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih dari 19.000 unit.

Karena cakupannya luas, pembaruan data penerima menjadi salah satu aspek penting agar program tidak hanya mengejar jumlah penerima, tetapi juga memastikan bantuan gizi benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan.

Masih Menunggu Hasil Penghitungan BGN

Hingga kini, proses penyisiran masih berlangsung. BGN belum menetapkan secara final berapa jumlah penerima yang akan tetap mendapatkan MBG setelah refocusing.

Pemerintah juga perlu memastikan proses tersebut dilakukan berdasarkan data kondisi ekonomi dan kebutuhan gizi yang jelas, sehingga siswa dari keluarga yang sebenarnya membutuhkan tidak ikut kehilangan manfaat.

Dengan demikian, polemik mengenai refocusing MBG tidak hanya berkaitan dengan jumlah penerima yang berkurang, tetapi juga mengenai bagaimana pemerintah menentukan kelompok yang paling tepat menjadi prioritas.