Detik-Detik Penyelamatan Wanita Hendak Bundir di Flyover Cileungsi Bogor, Polisi Ungkap Luka Batin Korban
HAIJAKARTA.ID – Penyelamatan wanita hendak bundir di Flyover Cileungsi Bogor dilakukan aparat kepolisian setelah seorang perempuan ditemukan berdiri di tepi jembatan dalam kondisi mencurigakan pada Jumat (16/1/2026) malam.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 22.30 WIB dan berhasil dicegah berkat laporan warga serta respons cepat petugas patroli.
Awal kejadian bermula saat polisi menerima informasi dari seorang pengemudi ojek online yang melihat seorang perempuan berhenti cukup lama di atas flyover.
Petugas kemudian mendatangi lokasi dan menemukan korban berdiri diam di pinggir jalan, kondisi yang tidak lazim mengingat flyover tersebut jarang dilintasi pejalan kaki selain petugas kebersihan.
“Kita lagi ngumpul itu, ada GoJek masuk ke sini. Katanya ada perempuan mencurigakan di atas jembatan berhenti. Akhirnya patroli datang ke sana. Ternyata betul dia di pinggir jalan, diam,” kata Kapolsek Cileungsi Kompol Edison, pada Sabtu (17/1/2026).
Polisi Lakukan Negosiasi hingga Korban Luluh
Kompol Edison menjelaskan, saat pertama kali ditemui, perempuan tersebut tampak sudah mempersiapkan diri untuk mengakhiri hidupnya.
Petugas kemudian melakukan pendekatan secara persuasif dan negosiasi agar korban mengurungkan niatnya.
“Semalam begitu coba ditanya, dia memang sudah persiapan. Karena masih bimbang, akhirnya negosiasi. Dia luluh mau sambil nangis-nangis histeris. Mungkin karena depresi,” jelasnya.
Setelah berhasil diyakinkan, korban dibawa ke kantor polisi untuk menenangkan diri sekaligus mendapatkan pendampingan.
Di sana, perempuan tersebut akhirnya bersedia menceritakan latar belakang masalah yang dihadapinya.
Trauma Rumah Tangga dan Tekanan Ekonomi
Dari hasil pembicaraan, diketahui korban mengalami trauma sejak kecil dan tengah menghadapi persoalan rumah tangga yang diperparah tekanan ekonomi.
Perselisihan dengan suami dan anggota keluarga terjadi sejak sore hari sebelum peristiwa tersebut.
“Jadi dia trauma kecil masalah rumah tangga, mungkin terhimpit ekonomi juga. Dari sore bertengkar katanya, ‘Kamu nggak guna. Pergi aja,’ oleh suaminya dan kakaknya sendiri,” beber Edison.
Akibat pertengkaran itu, korban memutuskan pergi dari rumahnya di kawasan Setu dan berjalan kaki sejak pukul 16.00 WIB untuk mencari lokasi yang menurutnya tepat untuk mengakhiri hidup.
“Dia sudah berusaha beberapa kali mengakhiri hidup, tapi nggak ada tempat yang bagus. Jadi dia jalan berhenti, jalan berhenti, akhirnya di flyover itu. Sudah persiapan, ada yang lewat, kemudian patroli. Akhirnya dia cerita,” jelas Edison.
Dipulangkan dan Dijamin Keamanannya
Awalnya, perempuan tersebut enggan kembali ke rumah. Namun, setelah dibujuk dan diberi jaminan perlindungan, ia akhirnya bersedia pulang dengan diantar langsung oleh petugas kepolisian.
“Saya kasih makan gitu, setelah itu alhamdulillah dia mau pulang diantar petugas sampai ke rumah. Nanti suaminya dibuat surat pernyataan tidak seperti ini,” sebutnya.
Petugas juga memastikan proses pemulangan berjalan aman dan diterima oleh pihak keluarga.
“Akhirnya perwira antar ke sana, alhamdulillah begitu sampai di sana ngobrol dengan keluarganya bisa disambut baik,” sambung Edison.
Kompol Edison menambahkan, suami korban menerima kembali istrinya dan perempuan tersebut menyatakan tidak akan mengulangi perbuatannya.
“Sampai menerima suaminya, kemudian untuk tidak mengulangi perbuatannya,” tambah Edison.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental serta peran lingkungan sekitar dalam mencegah tindakan berbahaya.
Respons cepat aparat dan laporan masyarakat dinilai mampu menyelamatkan nyawa serta membuka ruang pemulihan bagi korban.
