sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat dalam beberapa pekan terakhir.

Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, kurs dolar AS di sejumlah bank nasional bahkan mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar, dunia usaha, hingga masyarakat karena berpotensi berdampak pada harga barang impor, biaya pendidikan luar negeri, dan stabilitas ekonomi nasional.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Bloomberg dan sejumlah perbankan nasional, nilai tukar dolar AS tercatat berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.900 pada layanan telegraphic transfer (TT) counter.

Bank HSBC menjadi salah satu bank dengan kurs jual tertinggi yang mencapai Rp17.985 per dolar AS.

Sementara bank lain seperti ICBC, BRI, BTN, OCBC NISP, BCA, Mandiri, dan BNI juga menetapkan kurs jual di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900.

Daftar Kurs Jual Dolar AS di Sejumlah Bank

Berikut kurs jual dolar AS kategori TT counter pada Selasa, 26 Mei 2026:

  • HSBC: Rp17.985
  • ICBC: Rp17.952
  • BRI: Rp17.905
  • BTN: Rp17.890
  • OCBC NISP: Rp17.888
  • BCA: Rp17.835
  • BNI: Rp17.835
  • Mandiri: Rp17.810

Data tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar meskipun Bank Indonesia terus melakukan stabilisasi di pasar valuta asing.

Rupiah Sentuh Titik Terlemah

Tekanan terhadap mata uang Garuda sebenarnya telah berlangsung sejak awal Mei 2026.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat berada di level Rp17.603 hingga Rp17.658 per dolar AS dan menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah modern.

Penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang global lain seperti yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Kanada.

Kondisi ini dipicu oleh tingginya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Faktor Penyebab Rupiah Tertekan

Analis menilai ada beberapa faktor utama yang menyebabkan dolar AS terus menguat terhadap rupiah, antara lain:

1. Penguatan Dolar AS Global

Bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Kebijakan tersebut membuat investor global lebih tertarik menyimpan aset dalam dolar AS.

2. Ketegangan Geopolitik

Konflik geopolitik di Timur Tengah ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan sentimen risk off di pasar keuangan global.

Investor cenderung menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

3. Arus Modal Asing Keluar

Melemahnya aliran modal asing ke pasar domestik turut menekan nilai tukar rupiah. Investor asing disebut masih berhati-hati terhadap kondisi fiskal dan ekonomi global.

4. Kenaikan Harga Impor

Penguatan dolar membuat biaya impor meningkat, terutama untuk sektor energi, bahan baku industri, dan kebutuhan teknologi. Hal ini turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.

Dampak ke Masyarakat dan Dunia Usaha

Pelemahan rupiah dapat memberikan dampak langsung terhadap berbagai sektor. Harga barang impor berpotensi naik, termasuk elektronik, gadget, hingga bahan pangan tertentu.

Selain itu, biaya pendidikan luar negeri dan perjalanan internasional juga menjadi lebih mahal.

Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor turut menghadapi tekanan biaya produksi.

Jika kondisi berlangsung lama, harga barang konsumsi di dalam negeri berpotensi ikut meningkat.

Namun di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi eksportir karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.

Pemerintah dan BI Terus Lakukan Stabilitas

Bank Indonesia bersama pemerintah disebut terus memantau pergerakan pasar keuangan dan menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valuta asing serta penguatan cadangan devisa.

Pemerintah juga berupaya menjaga kepercayaan investor agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.

Dalam dokumen RAPBN 2026, pemerintah sebelumnya menargetkan asumsi kurs rupiah berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

Namun kondisi global yang terus berubah membuat nilai tukar bergerak jauh di atas asumsi awal tersebut.

Sejumlah ekonom memperkirakan volatilitas rupiah masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika ketidakpastian global dan harga energi dunia belum mereda.