sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan akibat tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data kurs yang beredar pada Jumat (12/6/2026), nilai tukar dolar AS sempat berada di kisaran Rp17.838 per dolar AS, setelah sebelumnya menembus level Rp18.000 dalam beberapa hari terakhir.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa mata uang Garuda masih menghadapi tantangan besar di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan internasional.

Dalam sebulan terakhir, kurs rupiah sempat bergerak dari kisaran Rp17.500 per dolar AS hingga menyentuh level tertinggi di atas Rp18.000 sebelum kembali menguat terbatas.

Sejumlah faktor eksternal menjadi pemicu utama penguatan dolar AS. Mulai dari ketegangan geopolitik global, arus modal yang beralih ke aset-aset aman, hingga kebijakan suku bunga tinggi yang masih diterapkan Amerika Serikat.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar tetap tinggi di pasar internasional.

Bank Indonesia Ambil Langkah Stabilkan Rupiah

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya meredam tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.

Langkah tersebut sempat memberikan sentimen positif bagi pasar sehingga rupiah mengalami penguatan setelah sebelumnya menyentuh rekor pelemahan terhadap dolar AS.

BI juga terus berkomunikasi dengan investor global guna menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang impor, termasuk bahan baku industri, produk elektronik, hingga kebutuhan kesehatan yang masih bergantung pada komponen impor.

Kementerian Kesehatan bahkan memperkirakan harga sejumlah obat dapat mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen apabila tekanan kurs berlanjut.

Selain itu, biaya perjalanan ke luar negeri, pembayaran pendidikan internasional, dan kewajiban utang dalam mata uang asing juga berpotensi menjadi lebih mahal bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Di sisi lain, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor nasional. Produk Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar global karena harga barang dalam mata uang asing menjadi lebih murah dibandingkan negara pesaing.

Rupiah Mulai Menunjukkan Sinyal Pemulihan

Meski masih berada pada level yang relatif lemah, rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada perdagangan Jumat pagi, mata uang Indonesia tercatat menguat ke level sekitar Rp17.930 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Penguatan tersebut didorong oleh respons pasar terhadap langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia.

Pelaku pasar kini menantikan perkembangan kebijakan moneter lanjutan dari Bank Indonesia serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang akan menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.