HAIJAKARTA.ID- Sosok Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Zahra Nazira Firman, tengah menjadi perbincangan publik.

Namanya mencuri perhatian setelah memimpin aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026).

Di tengah sorotan terhadap keberaniannya menyampaikan aspirasi mahasiswa, latar belakang keluarga Zahra turut menjadi perhatian.

Ia diketahui merupakan putri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Okta Kumala Dewi.

Informasi mengenai hubungan keluarga tersebut mencuat setelah sejumlah media memberitakan bahwa Zahra merupakan anak dari Okta Kumala Dewi, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) yang saat ini bertugas sebagai anggota Komisi I DPR RI.

Berdasarkan data profil anggota MPR RI, Okta Kumala Dewi merupakan anggota DPR RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Banten III.

Ia tercatat sebagai perwakilan Fraksi PAN dengan nomor anggota A-520. Fakta tersebut kemudian menambah perhatian publik terhadap sosok Zahra, terutama setelah dirinya tampil di garis depan dalam aksi mahasiswa yang menyuarakan sejumlah persoalan nasional.

Pimpin Aksi Mahasiswa di Patung Kuda

Nama Zahra mulai ramai diperbincangkan setelah memimpin aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada 29 Oktober 2026.

Dalam aksi tersebut, Zahra terlihat berdiri di atas mobil komando dengan mengenakan jaket almamater biru.

Ia memimpin rekan-rekannya menyampaikan orasi sekaligus membacakan ikrar Sumpah Mahasiswa.

Aksi tersebut membawa tiga tuntutan utama atau yang disebut Tritura. Aspirasi yang disampaikan mahasiswa mencakup pemulihan kondisi ekologi, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan nasional.

Selain itu, mahasiswa mendesak penghapusan praktik rangkap jabatan oleh pejabat publik serta meminta penguatan supremasi sipil.

Dalam keterangannya kepada awak media, Zahra menjelaskan bahwa tuntutan tersebut berangkat dari berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, pemenuhan hak masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan merupakan tanggung jawab negara yang harus dipastikan pelaksanaannya.

Ia juga menyoroti persoalan krisis ekologis, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.

Soroti Hak Dasar Masyarakat dan Krisis Ekologi

Dalam aksi tersebut, Zahra turut menyinggung kondisi masyarakat yang terdampak krisis lingkungan.

Ia menilai masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang sehat dan terbebas dari pencemaran udara akibat kebakaran hutan.

Zahra juga mempertanyakan pertanggungjawaban pihak-pihak yang dinilai memiliki kewenangan dalam menangani persoalan tersebut.

Baginya, persoalan lingkungan tidak bisa dipandang sebagai masalah biasa karena berkaitan langsung dengan hak hidup masyarakat.

Selain isu lingkungan, tuntutan mahasiswa juga menyasar persoalan tata kelola pemerintahan.

Mereka meminta agar praktik rangkap jabatan pejabat publik dievaluasi dan supremasi sipil diperkuat.

Aksi tersebut berlangsung hingga malam hari. Berdasarkan laporan detikcom, massa mahasiswa membubarkan diri sekitar pukul 19.00 WIB setelah menyampaikan tuntutan dan bertemu dengan Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi.

Latar Belakang Keluarga Ikut Menjadi Perhatian

Di luar aktivitasnya sebagai pimpinan organisasi mahasiswa, informasi mengenai hubungan Zahra dengan Okta Kumala Dewi turut memancing rasa ingin tahu masyarakat.

Okta sendiri merupakan politikus PAN yang mewakili daerah pemilihan Banten III, meliputi wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

Ia duduk di Komisi I DPR RI untuk masa jabatan 2024–2029. Munculnya informasi mengenai latar belakang keluarga Zahra menjadi salah satu perbincangan baru setelah aksi demonstrasi tersebut.

Namun, hubungan keluarga maupun latar belakang politik orang tua tidak serta-merta menjadi ukuran atas pandangan dan sikap seseorang dalam menyampaikan aspirasi.

Kehadiran Zahra dalam aksi mahasiswa tetap menjadi bagian dari dinamika gerakan mahasiswa yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan dan berbagai persoalan nasional.

Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bahwa perhatian publik terhadap seorang aktivis mahasiswa tidak hanya tertuju pada orasi dan tuntutan yang disampaikan, tetapi juga dapat meluas hingga latar belakang pribadi dan keluarganya.