Menhub Siapkan 5 Bandara Alternatif Buka 24 Jam, Imbas Erupsi Anak Krakatau!
HAIJAKARTA.ID- Pemerintah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat setelah sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah menyiapkan sejumlah bandara alternatif yang dapat beroperasi selama 24 jam.
Fasilitas tersebut disiapkan untuk memberikan pilihan kepada maskapai yang perlu mengalihkan penerbangan dari bandara yang terdampak abu vulkanik.
Lima bandara yang disiapkan untuk beroperasi 24 jam tersebut adalah Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Bandara Jenderal Ahmad Yani di Semarang, Bandara Juanda di Surabaya, Yogyakarta International Airport (YIA), serta Bandara Adi Soemarmo di Solo.
Dudy menjelaskan, pengoperasian bandara alternatif merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga konektivitas penerbangan selama kondisi di sejumlah bandara utama belum memungkinkan untuk melayani penerbangan secara normal.
“Bandara alternatif” tersebut dapat digunakan maskapai untuk mengalihkan keberangkatan maupun kedatangan sesuai kebutuhan operasional.
Namun, keputusan mengenai penggunaan bandara pengganti tetap disesuaikan dengan kebijakan masing-masing maskapai, kesiapan armada, jadwal penerbangan, serta kondisi penumpang.
Delapan Bandara Terdampak Abu Vulkanik
Langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah menutup sementara delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan penerbangan karena keberadaan abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat.
Delapan bandara yang terdampak antara lain Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Atung Bungsu.
Kementerian Perhubungan sebelumnya menyatakan penutupan sementara sejumlah bandara diperpanjang hingga pukul 24.00 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi sebaran abu vulkanik masih perlu diwaspadai.
Pemantauan dilakukan bersama operator bandara, maskapai, penyelenggara navigasi penerbangan, BMKG, dan pihak terkait lainnya.
Dampak terhadap penerbangan pun cukup besar. Kementerian Perhubungan menyebut penutupan delapan bandara tersebut berdampak terhadap 1.558 penerbangan.
Penumpang Bisa Dialihkan ke Bandara Pengganti
Untuk membantu masyarakat yang penerbangannya terdampak, pemerintah bersama InJourney Airports juga menyiapkan dukungan transportasi darat menuju sejumlah bandara alternatif.
Transportasi tersebut berupa layanan bus dan kereta api bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan dari Bandara Soekarno-Hatta ke bandara pengganti.
Fasilitas transportasi tersebut disiapkan agar penumpang tetap dapat melanjutkan perjalanan meskipun lokasi keberangkatannya berubah.
Penumpang juga diminta terus memantau informasi dari maskapai masing-masing karena perubahan jadwal maupun lokasi keberangkatan dapat terjadi mengikuti perkembangan kondisi abu vulkanik.
Selain pengalihan penerbangan, pemerintah juga memastikan hak penumpang tetap diperhatikan.
Maskapai diminta memberikan pilihan penjadwalan ulang atau pengembalian dana tiket (refund) bagi penumpang yang terdampak gangguan penerbangan.
Keselamatan Penerbangan Tetap Menjadi Prioritas
Pemerintah menegaskan bahwa pengoperasian bandara alternatif bukan berarti mengabaikan faktor keselamatan.
Setiap keputusan operasional tetap mempertimbangkan kondisi ruang udara dan penyebaran abu vulkanik.
Keberadaan lima bandara alternatif yang beroperasi selama 24 jam diharapkan dapat mengurangi dampak penutupan sejumlah bandara terhadap masyarakat, khususnya penumpang yang memiliki kebutuhan perjalanan mendesak menuju maupun dari Jakarta.
Di sisi lain, calon penumpang disarankan tidak langsung menuju bandara sebelum mendapatkan kepastian dari maskapai.
Status penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi ruang udara.
Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus melakukan pemantauan untuk memastikan operasional penerbangan dapat kembali normal ketika kondisi dinilai aman.
