Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap kualitas buku pelajaran yang digunakan peserta didik di Indonesia.

Pemerintah kini menyiapkan evaluasi dan pembaruan buku ajar untuk jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

Langkah tersebut dilakukan setelah Presiden Prabowo menaruh perhatian terhadap kondisi buku yang digunakan siswa di sekolah.

Ia kemudian meminta jajarannya melakukan evaluasi secara menyeluruh agar bahan ajar yang digunakan peserta didik dapat mengikuti perkembangan zaman, teknologi, serta kebutuhan pendidikan saat ini.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, perhatian Presiden terhadap buku pelajaran muncul setelah Prabowo melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah dan melihat secara langsung buku yang digunakan para siswa.

Prabowo kemudian meminta agar kualitas buku pelajaran Indonesia tidak hanya dievaluasi secara internal, tetapi juga dibandingkan dengan buku yang digunakan di sejumlah negara lain.

“Intinya kita mau memperbaiki kualitas buku ajar bagi seluruh adik-adik peserta didik kita mulai dari SD, SMP, maupun SMA,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya.

Buku dari Negara Tetangga Jadi Bahan Evaluasi

Untuk mendapatkan gambaran mengenai kualitas bahan ajar di negara lain, pemerintah telah mengumpulkan sejumlah buku pelajaran dari berbagai negara.

Buku-buku tersebut berasal dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, di antaranya Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor-Leste, Kamboja, dan Vietnam.

Buku dari negara-negara tersebut akan digunakan sebagai bahan pembanding untuk melihat berbagai aspek, mulai dari penyajian materi, desain, ukuran huruf, kualitas bahan, hingga tingkat kenyamanan buku ketika digunakan oleh siswa.

Sebelumnya, pada Juni 2026, Prabowo juga telah memerintahkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti untuk membentuk tim yang secara khusus mempelajari dan mengevaluasi kembali buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah.

Perintah tersebut disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka. Pemerintah menilai buku pelajaran perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi agar pendidikan Indonesia tidak tertinggal dari negara lain.

Libatkan Sejumlah Kementerian

Evaluasi buku pelajaran tersebut tidak hanya dilakukan oleh satu kementerian. Pemerintah membentuk tim gabungan yang melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Bappenas.

Tim tersebut akan melakukan perbandingan terhadap buku-buku pelajaran dari Indonesia dan negara pembanding.

Hasil evaluasi nantinya diharapkan menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas buku ajar nasional.

Langkah ini menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas guru maupun pembangunan sarana dan prasarana sekolah.

Pemerintah juga menilai materi dan media pembelajaran yang digunakan siswa merupakan bagian penting dari peningkatan mutu pendidikan.

Buku Pelajaran Berpotensi Terintegrasi dengan Layar Pintar

Selain pembaruan dari sisi isi dan tampilan, muncul pula gagasan agar buku pelajaran nasional dapat terintegrasi dengan teknologi pembelajaran.

Salah satu konsep yang dibahas adalah memungkinkan buku pelajaran untuk dipindai atau diakses dalam bentuk digital, kemudian dihubungkan dengan interactive flat panel (IFP) atau layar pintar yang tersedia di sekolah.

Dengan konsep tersebut, buku fisik tidak berdiri sendiri. Materi pembelajaran diharapkan dapat terhubung dengan teknologi digital sehingga proses belajar menjadi lebih interaktif dan sesuai dengan perkembangan teknologi pendidikan.

Pemerintah sebelumnya memang telah menekankan bahwa bahan ajar harus mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Karena itu, evaluasi buku tidak hanya menyangkut isi materi, tetapi juga bagaimana buku tersebut dapat digunakan dalam ekosistem pembelajaran yang semakin terdigitalisasi.

Bukan Sekadar Mengganti Buku

Pembenahan buku pelajaran yang dilakukan pemerintah pada akhirnya diharapkan bukan sekadar mengganti buku lama dengan buku baru.

Kualitas isi, ketepatan materi, bahasa yang digunakan, desain halaman, ukuran huruf, kualitas bahan, hingga kemudahan siswa memahami materi menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.

Perbandingan dengan negara lain juga dimaksudkan sebagai bahan evaluasi. Artinya, buku yang digunakan di negara tetangga tidak serta-merta menjadi standar yang harus disalin, melainkan dapat dipelajari untuk melihat praktik yang dinilai baik dan relevan dengan kebutuhan pendidikan Indonesia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional dan memastikan siswa mendapatkan bahan pembelajaran yang lebih baik, mudah dipahami, serta sesuai dengan tuntutan zaman.