Prabowo Wacanakan Teknologi Kloning untuk Perbanyak Sapi, Dorong Produksi Daging Nasional!
HAIJAKARTA.ID- Presiden Prabowo Subianto membuka peluang pemanfaatan teknologi kloning untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di Indonesia.
Gagasan tersebut disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prabowo menilai penguasaan teknologi menjadi salah satu kunci untuk memperkuat perekonomian sekaligus meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan, termasuk ketersediaan daging sapi.
Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan pemerintah tengah mendorong strategi hilirisasi dan huluisasi. Keuntungan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menurut dia, diarahkan untuk mendukung berbagai upaya tersebut.
Selain mengembangkan kemampuan teknologi di dalam negeri, pemerintah juga disebut akan mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan terbaik di dunia.
Tujuannya bukan semata-mata memiliki perusahaan, tetapi memperoleh teknologi, hak kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), sistem manajemen, akses pasar, hingga pengalaman yang telah dimiliki perusahaan tersebut.
Teknologi Kloning untuk Perbanyak Sapi
Prabowo kemudian memberikan contoh konkret mengenai teknologi yang dapat dimanfaatkan pemerintah, yakni teknologi kloning untuk memperbanyak sapi.
Menurutnya, peningkatan produksi daging nasional membutuhkan populasi sapi yang memadai.
Karena itu, teknologi reproduksi modern dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk mempercepat pengembangan populasi dan produktivitas ternak.
Gagasan tersebut disampaikan Prabowo sebagai bagian dari upaya pemerintah membangun kemampuan nasional dengan memanfaatkan teknologi yang telah berkembang di berbagai negara.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa pernyataan tersebut merupakan gagasan yang disampaikan Presiden, bukan pengumuman bahwa program kloning sapi nasional sudah berjalan atau telah diterapkan secara massal.
Pemerintah Bidik Teknologi dan Pengalaman Perusahaan Global
Strategi pemerintah tidak hanya diarahkan pada sektor peternakan. Prabowo menyebut penguasaan teknologi global diperlukan untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia.
Melalui strategi tersebut, pemerintah ingin mendapatkan akses terhadap teknologi dan pengetahuan yang sudah dikembangkan perusahaan-perusahaan kelas dunia.
Dengan demikian, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan teknologi tersebut di dalam negeri.
Pemerintah juga melihat pemanfaatan keuntungan BUMN sebagai salah satu instrumen untuk mempercepat berbagai proyek strategis nasional.
Sejumlah laporan media mengenai pidato tersebut juga mencatat bahwa pemerintah mengarahkan keuntungan BUMN untuk mendukung agenda hilirisasi.
Kloning Bukan Satu-satunya Teknologi Peternakan
Di sektor peternakan, pemerintah sebenarnya telah mengembangkan berbagai teknologi reproduksi dan pemuliaan genetik.
Kementerian Pertanian, misalnya, mendorong penggunaan teknologi seperti inseminasi buatan, transfer embrio, dan pemanfaatan teknologi genetika untuk meningkatkan kualitas serta produktivitas ternak.
Kementerian Pertanian juga menjelaskan bahwa transfer embrio dapat digunakan untuk memperbanyak keturunan dari sapi dengan kualitas genetik unggul.
Pada Juni 2026, Kementerian Pertanian juga menyalurkan ribuan dosis semen beku dan nitrogen cair ke Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari upaya meningkatkan populasi serta mutu genetik sapi.
Sementara itu, pengembangan sapi unggul seperti Belgian Blue juga terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas daging.
Kementerian Pertanian menyebut program tersebut diarahkan untuk menghasilkan ternak dengan pertumbuhan cepat dan bobot panen yang lebih tinggi dibandingkan sapi konvensional.
Artinya, wacana kloning yang disampaikan Prabowo berada dalam konteks lebih luas, yakni pemanfaatan bioteknologi dan teknologi reproduksi untuk memperkuat sektor peternakan nasional.
Dorong Kemandirian Pangan
Peningkatan populasi dan produktivitas sapi menjadi bagian penting dari agenda ketahanan pangan.
Indonesia membutuhkan pasokan protein hewani yang cukup seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan konsumsi.
Pemerintah sebelumnya juga telah mengembangkan Sapi Merah Putih, yang memanfaatkan teknologi transfer embrio dan pemuliaan genetik untuk menghasilkan sapi dengan karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan produksi nasional.
Karena itu, pemanfaatan teknologi reproduksi dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan produksi ternak dalam jangka panjang.
Meski demikian, penerapan teknologi kloning dalam skala besar tentunya membutuhkan kajian lebih lanjut, baik dari sisi teknologi, biaya, kesehatan hewan, produktivitas, regulasi, maupun aspek bioetika.
Kajian Kementerian Pertanian juga mencatat bahwa tidak semua teknologi reproduksi dapat langsung diterapkan secara luas karena persoalan efisiensi dan kesiapan penerapannya.
Bukan Sekadar Menambah Jumlah Sapi
Jika gagasan tersebut nantinya benar-benar dikembangkan, tujuan pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan menambah jumlah sapi.
Teknologi reproduksi dan pemuliaan juga dapat diarahkan untuk menghasilkan ternak dengan kualitas genetik yang lebih baik, produktivitas tinggi, serta kemampuan adaptasi yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap peningkatan populasi sapi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas peternakan.
Wacana Prabowo ini sekaligus menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang semakin menekankan penguasaan teknologi sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan dan penguatan ekonomi nasional.
Untuk saat ini, belum ada pernyataan resmi bahwa Indonesia akan segera melakukan kloning sapi secara massal.
Pernyataan Presiden dalam Sidang Tahunan MPR lebih tepat dipahami sebagai contoh teknologi yang ingin dikuasai dan dimanfaatkan pemerintah untuk mendukung peningkatan produksi daging nasional.
