Program MBG Disesuaikan Jadwal Sekolah 5 Hari Seminggu, Daerah 3T Tetap 6 Hari!
HAIJAKARTA.ID- Program MBG disesuaikan jadwal sekolah 5 hari seminggu, begini penjelasan pemerintah!
Dalam rapat koordinasi tingkat tinggi (rakortas) yang digelar secara virtual bersama Presiden Prabowo Subianto pada 28 Maret 2026, diputuskan bahwa penyaluran MBG akan disesuaikan dengan hari aktif sekolah.
Penyaluran Disesuaikan Hari Sekolah
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa program MBG umumnya akan diberikan selama lima hari dalam sepekan, mengikuti mayoritas jadwal sekolah di Indonesia.
Artinya, bagi sekolah yang menerapkan sistem lima hari belajar, siswa akan menerima MBG sebanyak lima kali dalam seminggu.
Sementara itu, sekolah yang masih menjalankan kegiatan belajar enam hari, tetap akan mendapatkan distribusi MBG selama enam hari penuh.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan efektivitas program sekaligus menyesuaikan dengan kondisi riil di lapangan, mengingat sebagian besar sekolah di Indonesia telah menerapkan sistem lima hari sekolah.
Pengecualian untuk Daerah 3T dan Wilayah Stunting Tinggi
Meski demikian, pemerintah memberikan perlakuan khusus bagi daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) serta wilayah dengan angka stunting tinggi.
Di daerah-daerah ini, MBG tetap akan disalurkan hingga hari Sabtu. Langkah ini dinilai strategis untuk menjamin kecukupan gizi anak-anak, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan nutrisi.
Menurut BGN, pemberian tambahan hari distribusi di wilayah prioritas bertujuan untuk menekan angka stunting sekaligus memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan asupan gizi yang memadai.
Pendataan Ketat untuk Tepat Sasaran
Untuk memastikan program berjalan optimal, BGN melakukan pendataan secara menyeluruh dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk dinas pendidikan dan dinas kesehatan di daerah.
Data yang digunakan merujuk pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan.
Pendataan mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, hingga tingkat prevalensi stunting di masing-masing wilayah.
BGN menekankan bahwa akurasi data menjadi kunci utama keberhasilan program ini, mengingat MBG tidak hanya menyasar pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Efisiensi Anggaran Capai Rp40 Triliun
Di sisi lain, kebijakan penyaluran lima hari juga berkaitan dengan upaya efisiensi anggaran.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut bahwa pengurangan frekuensi distribusi dari enam hari menjadi lima hari berpotensi menghemat anggaran negara hingga sekitar Rp40 triliun per tahun.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa efisiensi tersebut merupakan inisiatif dari BGN sendiri, bukan bentuk pemangkasan sepihak dari pemerintah.
Presiden Pastikan Program Tetap Berjalan
Presiden Prabowo memastikan bahwa program MBG tidak akan dihentikan, meskipun pemerintah tengah melakukan penghematan anggaran akibat dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa masih banyak cara lain untuk melakukan efisiensi tanpa harus mengorbankan program strategis seperti MBG.
Bahkan, Presiden menyatakan keyakinannya bahwa anggaran untuk program ini tetap tersedia.
Menurutnya, MBG memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.
Selain itu, program ini juga memberikan dampak ekonomi luas melalui penciptaan lapangan kerja, mulai dari sektor produksi hingga distribusi makanan.
Dampak Jangka Panjang bagi Generasi Muda
Dengan implementasi yang semakin terstruktur, program MBG diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek untuk pemenuhan gizi siswa, tetapi juga investasi jangka panjang bagi pembangunan generasi yang sehat dan produktif.
Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki mekanisme penyaluran agar program ini benar-benar tepat sasaran, berkelanjutan, dan mampu menjangkau seluruh anak Indonesia, terutama mereka yang berada di wilayah dengan kebutuhan paling tinggi.

