Program Padat Karya DLH DKI Buka Peluang Kerja bagi Warga Lintas Usia, Dari Anak Muda hingga Lansia!


HAIJAKARTA.ID – Camat Kembangan bersama Lurah Kembangan Utara, Jakarta Barat melakukan kunjungan ke Bale Mawar Mewangi RW 03 untuk meninjau berbagai program pemberdayaan lingkungan dan masyarakat yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Kegiatan yang ditinjau meliputi budidaya maggot, pertanian warga, hingga pengolahan kompos dari limbah organik. Kunjungan tersebut berlangsung penuh antusias dan disambut hangat […]
HAIJAKARTA.ID- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat melalui program Padat Karya yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Program ini memberikan peluang bagi warga dari berbagai kelompok usia untuk mendapatkan penghasilan harian sekaligus terlibat langsung dalam kegiatan pengelolaan sampah di Ibu Kota.
Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, program Padat Karya menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap lapangan pekerjaan.

Menariknya, kesempatan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan usia produktif, tetapi juga terbuka bagi masyarakat berusia di atas 40 tahun hingga lanjut usia.
Sejumlah warga yang telah dinyatakan lolos seleksi kini mulai mendapatkan penugasan di berbagai unit kerja lingkungan hidup.
Mereka ditempatkan sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup maupun tenaga pembantu (helper) di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan.
Peserta program tersebut berasal dari sejumlah wilayah Jakarta, mulai dari Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, hingga Jakarta Selatan.
Kehadiran program ini menjadi kesempatan bagi masyarakat dengan latar belakang berbeda untuk memperoleh pekerjaan sekaligus menambah pengalaman di bidang pengelolaan lingkungan.

Salah satu peserta yang merasakan manfaat program tersebut adalah Yeti Puspita (43), warga Pesing, Jakarta Barat.
Ibu rumah tangga dengan dua anak itu kini bekerja sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat.
Bagi Yeti, pekerjaan tersebut bukan sekadar kesempatan memperoleh penghasilan tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia juga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai proses pemilahan serta pengelolaan sampah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesempatan serupa turut dirasakan Syafiq Albar (19), warga Duren Sawit, Jakarta Timur.
Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) tersebut mendapatkan penempatan sebagai helper di RDF Plant Rorotan.
Syafiq mengaku bersyukur dapat lolos seleksi dan memperoleh pekerjaan melalui program Padat Karya.
Penghasilan harian yang diterimanya bahkan berada di luar perkiraan.
Ia berencana menyisihkan sebagian pendapatannya untuk diberikan kepada orang tua sebagai bentuk kontribusi membantu perekonomian keluarga.
Program ini juga memberikan peluang bagi masyarakat yang selama ini menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan karena faktor usia.
Hal tersebut dirasakan Ristika Damayanti (46), seorang ibu tunggal asal Plumpang, Jakarta Utara.
Ristika akan bertugas sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu.
Ia menyambut baik kesempatan tersebut karena menyadari bahwa mencari pekerjaan ketika usia sudah melewati 40 tahun bukanlah perkara mudah.
Sementara itu, pengalaman menarik datang dari Testo Gumilar (60), warga Cibubur, Jakarta Timur.
Meski telah memasuki usia 60 tahun, ia berhasil melewati proses seleksi dan mendapatkan kesempatan bekerja sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.
Sebelum mengikuti program tersebut, Testo diketahui aktif dalam kegiatan Bank Sampah Asri Berseri RW 11.
Pengalamannya dalam aktivitas pengelolaan sampah menjadi salah satu bagian dari perjalanan keterlibatannya di bidang lingkungan.
Testo sempat merasa kurang percaya diri ketika melihat banyak peserta seleksi yang berusia lebih muda.
Namun, kekhawatiran tersebut akhirnya terjawab setelah dirinya dinyatakan lolos.
Baginya, program Padat Karya membuktikan bahwa kesempatan untuk bekerja tetap terbuka tanpa harus dibatasi usia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, sebelumnya menjelaskan bahwa program Padat Karya dirancang untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat terhadap pekerjaan dengan kebutuhan pemerintah dalam meningkatkan pengelolaan lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah.
Harapannya, pengalaman yang didapat selama bekerja dapat dibawa ke lingkungan tempat tinggal masing-masing sehingga turut mendorong kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, turut menegaskan bahwa Padat Karya DLH merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menghadirkan kesempatan kerja yang lebih inklusif bagi masyarakat.
Menurut Chico, program tersebut memberikan ruang bagi warga dari berbagai kelompok usia, termasuk masyarakat yang telah berusia di atas 40 tahun bahkan 60 tahun, untuk tetap produktif dan mendapatkan penghasilan.
“Melalui Padat Karya DLH, Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung memberikan kesempatan kerja kepada warga dari berbagai usia, termasuk mereka yang sudah berusia di atas 40 dan 60 tahun. Di samping memperoleh penghasilan untuk menopang kebutuhan keluarga, peserta juga ikut serta menjaga lingkungan Jakarta,” ujar Chico Hakim.
Lebih dari sekadar program penyediaan lapangan pekerjaan, Padat Karya DLH juga diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan perkotaan.
Keterlibatan warga dalam proses pemilahan sampah menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik.
Rangkuman AI sedang dibuat…