Tanggapan BGN Usai Siswa di Pemalang Dikeluarkan Gegara Kritik MBG, Video Viral di Medsos
Isu siswa di Pemalang dikeluarkan gegara kritik MBG ramai diperbincangkan di media sosial.
Namun, Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar dan hanya merupakan kesalahpahaman yang telah diselesaikan.
Koordinator Regional BGN Jawa Tengah, Reza Mahendra, memastikan tidak ada siswa yang dikeluarkan dari sekolah akibat kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
BGN Bantah Isu Siswa Dikeluarkan
Reza menyatakan bahwa informasi terkait Siswa di Pemalang Dikeluarkan gegara Kritik MBG tidak sesuai fakta di lapangan. Ia menegaskan status siswa tersebut masih aktif sebagai peserta didik.
Ia menyampaikan bahwa kejadian di sekolah tersebut telah diselesaikan secara internal melalui pendekatan edukatif kepada wali murid.
“Peristiwa di SDN 01 Banjaranyar terkait siswa yang disebut dikeluarkan karena mengkritik MBG itu tidak benar. Sampai sekarang tidak ada siswa yang diberhentikan. Siswa tersebut masih tercatat sebagai peserta didik. Persoalan itu sudah diselesaikan pihak sekolah dengan memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai pagu anggaran MBG,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Kronologi Siswa di Pemalang Dikeluarkan Gegara Kritik MBG
Isu Siswa di Pemalang Dikeluarkan gegara Kritik MBG bermula dari kesalahpahaman orang tua terkait anggaran menu program MBG, khususnya saat bulan puasa.
Orang tua siswa mengira harga paket MBG mencapai Rp15 ribu, padahal tarif sebenarnya berkisar Rp8 ribu untuk porsi kecil dan Rp10 ribu untuk porsi besar.
Pihak sekolah kemudian memanggil wali siswa untuk memberikan klarifikasi. Namun setelah pertemuan tersebut, siswa yang bersangkutan tidak kembali ke sekolah.
Berdasarkan penelusuran, polemik ini sebenarnya sudah muncul sejak Januari 2026 dan kembali mencuat pada April 2026.
Awalnya, kritik dilayangkan terhadap Lembar Kerja Siswa (LKS), infaq, hingga program MBG. Namun, narasi yang berkembang di media sosial kemudian berubah menjadi tudingan bahwa siswa dikeluarkan secara sepihak.
Padahal, fokus penyelidikan justru mengarah pada dugaan perundungan, bukan kritik terhadap program MBG.
Proses Penanganan dan Investigasi
Kasus ini telah melalui berbagai tahapan penanganan, termasuk pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Sekolah juga telah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Bahkan, pihak sekolah disebut telah berupaya mengajak siswa kembali bersekolah, namun belum membuahkan hasil.
Hingga kini, proses hukum masih berjalan dengan pendampingan kuasa hukum dari tingkat provinsi.
Kepala SDN 01 Banjaranyar, Sri Umbartiningsih, menegaskan bahwa program MBG justru mendapat sambutan positif dari siswa.
Ia menyebut para siswa sangat antusias saat pembagian makanan berlangsung.
“Anak-anak di sekolah kami sangat antusias dengan adanya MBG. Hal ini terlihat dari mereka yang menunggu saat pembagian, bahkan sering meminta bagian milik temannya yang tidak hadir,” ungkapnya.
BGN menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan program MBG agar lebih optimal dan tepat sasaran.
Program ini juga terus dievaluasi, termasuk oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemalang Randudongkal 2 yang telah beroperasi sejak 1 Sep
