sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kisah ulama yang mendapatkan malam lailatul qadar, begini amalan dan kisahnya!

Ramadan selalu menghadirkan satu malam yang paling dinanti umat Islam, yakni Lailatul Qadar malam yang disebut dalam Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan.

Di tengah pencarian malam penuh kemuliaan tersebut, tersiar sebuah riwayat menarik tentang seorang ulama besar dunia tasawuf, Syaikh Abu Hasan As-Syadzili, yang diyakini sejak baligh hingga menjelang wafatnya selalu berjumpa dengan Lailatul Qadar.

Ulama Besar Bergelar Al-Qutb

Syaikh Abu Hasan As-Syadzili lahir di wilayah Maghribi (Maroko) pada 1197 M. Ia dikenal sebagai pendiri Tarekat Syadziliyah, salah satu tarekat besar dalam tradisi tasawuf Sunni yang berkembang luas di Afrika Utara hingga Timur Tengah.

Dalam literatur tasawuf, beliau disebut menyandang gelar al-Qutb, yang berarti “poros” atau pusat spiritual alam. Gelar ini dalam tradisi sufi merujuk pada kedudukan tertinggi para wali.

Sebagian kalangan juga menyebut maqam tersebut dengan istilah al-Ghauts (penolong) atau Sulthanul Auliya (rajanya para wali), sebagaimana juga dilekatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Riwayat tentang Lailatul Qadar

Dalam sejumlah riwayat yang dinukil dari kitab kumpulan doa-doa Ramadan dan tradisi lisan tarekat, disebutkan bahwa sejak usia baligh hingga wafatnya, Syaikh Abu Hasan As-Syadzili selalu menjumpai malam Lailatul Qadar setiap tahun.

Lailatul Qadar sendiri disebut dalam Surah Al-Qadr sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan” dan terjadi pada bulan Ramadan.

Mayoritas ulama berpendapat malam tersebut berada di sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.

Rumusan Tanggal Ganjil Versi Imam Syadzili

Menukil sejumlah sumber keislaman klasik dan dirujuk pula dalam pemberitaan media nasional, Imam Syadzili pernah menyampaikan pola kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama Ramadan:

  • Jika 1 Ramadan jatuh pada Ahad, maka Lailatul Qadar bertepatan dengan 29 Ramadan.
  • Jika 1 Ramadan pada Senin, maka terjadi pada 21 Ramadan.
  • Jika 1 Ramadan pada Selasa, maka pada 27 Ramadan.
  • Jika 1 Ramadan pada Rabu, maka pada 19 Ramadan.
  • Jika 1 Ramadan pada Kamis, maka pada 25 Ramadan.
  • Jika 1 Ramadan pada Jumat, maka pada 17 Ramadan.
  • Jika 1 Ramadan pada Sabtu, maka pada 23 Ramadan.

Meski demikian, para ulama tetap menegaskan bahwa kepastian Lailatul Qadar merupakan rahasia Allah SWT. Rumusan tersebut dipahami sebagai ijtihad spiritual, bukan ketetapan mutlak.

Rahasia Amalan: Bukan Sekadar Menunggu Tanggal

Terlepas dari perhitungan tanggal, inti ajaran Syaikh Abu Hasan As-Syadzili justru terletak pada konsistensi ibadah dan kebersihan hati.

Beliau menganjurkan agar setiap mukmin yang ingin meraih Lailatul Qadar memperbanyak:

  • Istighfar
  • Tasbih, tahmid, dan tahlil
  • Shalawat kepada Nabi
  • Doa-doa yang baik untuk diri sendiri dan keluarga, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat
  • Sedekah
  • Menjaga diri dari maksiat
  • Menguatkan shalat berjamaah, terutama Magrib, Isya, dan Subuh

Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam terakhir Ramadan adalah:

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna

(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami)

Doa tersebut juga diriwayatkan dalam hadis sahih sebagai anjuran Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah RA ketika bertanya tentang bacaan di malam Lailatul Qadar.

Fokus pada Kesungguhan Ibadah

Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa esensi meraih Lailatul Qadar bukan pada kepastian tanggal, melainkan pada kesungguhan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

Rasulullah SAW sendiri memperbanyak ibadah, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya pada fase tersebut.

Karena itu, kisah tentang Syaikh Abu Hasan As-Syadzili dipahami sebagai teladan spiritual tentang istiqamah dan kesungguhan, bukan sekadar formula matematis untuk “menentukan” malam kemuliaan.

Kisah Syaikh Abu Hasan As-Syadzili menjadi pengingat bahwa Lailatul Qadar bukan hanya tentang mencari satu malam istimewa, tetapi tentang membangun kualitas ibadah yang konsisten dan hati yang bersih.

Di tengah Ramadan yang terus berjalan, umat Islam diajak tidak hanya menanti malam ganjil, tetapi juga memperbanyak zikir, doa, sedekah, serta menjaga shalat berjamaah.

Sebab, sebagaimana diajarkan para ulama, kemuliaan Lailatul Qadar lebih dekat kepada mereka yang mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menebak-nebak waktunya.