sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Sejarah terjadinya malam Lailatul Qadar memang menjadi salah satu peristiwa penting dalam ajaran islam yang berkaitan dengan turuunya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril.

Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu momen paling dinanti umat Islam setiap bulan Ramadan.

Malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan ini diyakini sebagai waktu turunnya Al-Qur’an sekaligus malam penetapan takdir tahunan bagi seluruh makhluk.

Lantas, bagaimana sejarah dan latar belakang kemuliaan malam tersebut?

Makna Lailatul Qadar dalam Perspektif Ulama

Secara bahasa, kata al-qadr berasal dari akar kata qadara yang berarti menetapkan, menentukan, atau mengukur sesuatu.

Ulama besar seperti Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Syifa’ul ‘Alil fi Masa’ilil Qadha wal Qadar menjelaskan bahwa Lailatul Qadar bermakna malam penetapan dan penentuan ketetapan Allah bagi makhluk-Nya.

Riwayat dari para tabi’in seperti Mujahid dan Sa’id bin Jubair menyebutkan bahwa pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai urusan hamba selama satu tahun ke depan, mulai dari rezeki, ajal, hingga catatan ibadah seperti haji.

Hal ini juga dinukil dari penjelasan Ibnu Abbas RA bahwa segala ketentuan tahunan diturunkan dari Ummul Kitab pada malam itu.

Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan hanya malam penuh pahala, tetapi juga momentum spiritual penetapan takdir kehidupan manusia.

Sejarah Turunnya Lailatul Qadar

Sejarah Lailatul Qadar erat kaitannya dengan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa tersebut terjadi saat Rasulullah berkhalwat di Gua Hira, yang terletak di Jabal Nur, sekitar 6 kilometer dari Masjidil Haram, Makkah.

Dalam buku Wawasan Al-Qur’an, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pada malam itulah Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1-5.

Peristiwa ini menandai diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul pada usia 40 tahun.

Al-Qur’an sendiri menegaskan kemuliaan malam tersebut dalam Surah Al-Qadr ayat 1-3:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan pula bahwa turunnya Surah Al-Qadr menjadi penghibur bagi Rasulullah SAW dan para sahabat.

Saat itu Rasulullah menceritakan tentang umat terdahulu yang mampu beribadah selama ratusan tahun tanpa maksiat.

Allah kemudian menganugerahkan Lailatul Qadar sebagai keistimewaan umat Islam agar pahala ibadah mereka dapat melampaui umat-umat sebelumnya meskipun usia lebih singkat.

Mengapa Lailatul Qadar Dikhususkan untuk Umat Islam?

Rais Syuriyah PBNU, Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, menjelaskan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar bermula dari “kegalauan” Nabi Muhammad SAW mengenai usia umatnya yang relatif pendek dibanding nabi-nabi terdahulu.

Menurut Gus Baha, Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun, sementara Nabi Muhammad SAW hanya hidup sekitar 63 tahun.

Rasulullah merasa bahwa dengan usia pendek tersebut, umatnya berpeluang memiliki pahala lebih sedikit dibanding umat terdahulu.

Sebagai jawaban atas kegelisahan itu, Allah menurunkan Surah Al-Qadr. Melalui malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (sekitar 83 tahun), umat Nabi Muhammad diberi kesempatan melipatgandakan pahala ibadahnya.

Gus Baha bahkan mengilustrasikan, jika seseorang mulai berpuasa sejak usia 8 tahun dan hidup hingga 60 tahun, maka ia memiliki sekitar 52 kali kesempatan meraih Lailatul Qadar.

Jika setiap Lailatul Qadar bernilai 83 tahun ibadah, maka total pahala yang bisa diraih melampaui usia panjang umat terdahulu.

Waktu Terjadinya Lailatul Qadar

Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.”

Mayoritas ulama berpendapat bahwa malam tersebut paling mungkin terjadi pada malam ke-27 Ramadan.

Namun, secara umum umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir.

Tanda-tanda Lailatul Qadar juga disebutkan dalam hadis riwayat Sahih Muslim, yakni matahari terbit di pagi harinya tidak menyilaukan dan tampak redup.

Keutamaan Beribadah di Malam Lailatul Qadar

Dalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah, disebutkan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadar lebih utama dibandingkan ibadah selama seribu bulan tanpa Lailatul Qadar. Amalan yang dianjurkan meliputi:

  • Salat malam (qiyamul lail)
  • Membaca Al-Qur’an
  • Zikir dan doa
  • Memperbanyak istighfar
  • I’tikaf di masjid

Malam ini menjadi momentum emas bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, memohon ampunan, serta berharap takdir terbaik di tahun mendatang.