sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Di tengah tingginya biaya hidup ibu kota, para tenaga pendidik non-PNS masih harus berjuang keras untuk bertahan hidup.

Salah satu cerita datang dari Abdul Azis (45), guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Perjuangan Guru Honorer Jakarta Bersepeda 10 Km

Sejak 2018, Azis mengabdikan diri sebagai pengajar dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup.

Gaji awalnya hanya Rp700 ribu per bulan, dan kini meningkat menjadi Rp2 juta. Namun, jumlah tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Kalau untuk kebutuhan memang belum mencukupi, karena kondisi ekonomi sekarang cukup berat. Apalagi saya sudah punya tambahan anak. Tapi saya tetap bersyukur,” ujar Azis saat ditemui di sekolahnya, Senin (20/4/2026).

Fenomena guru honorer Jakarta seperti Azis mencerminkan realitas yang masih banyak dialami tenaga pendidik lainnya.

Dengan standar kebutuhan hidup yang tinggi, gaji Rp2 juta per bulan jelas jauh di bawah kebutuhan ideal, terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Meski demikian, Azis tetap menjalankan profesinya dengan penuh dedikasi.

Ia tidak hanya mengandalkan gaji utama, tetapi juga mencari tambahan penghasilan dari berbagai kegiatan.

Cari Tambahan Penghasilan

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Azis aktif mengajar marawis, melatih hadroh, hingga mengisi pengajian di majelis taklim. Dari aktivitas tersebut, ia memperoleh pemasukan tambahan meski tidak tetap.

“Alhamdulillah masih ada tambahan walaupun jumlahnya tidak besar. Setidaknya bisa membantu menutup kekurangan,” katanya.

Upaya ini menjadi gambaran nyata bagaimana guru honorer Jakarta harus bekerja ekstra demi mempertahankan kehidupan ekonomi keluarga.

Perjuangan Azis semakin berat sejak motornya hilang pada Desember 2025. Kini, ia harus bersepeda sejauh kurang lebih 10 kilometer setiap hari untuk mengajar.

“Sejak Desember sampai sekarang saya pakai sepeda dengan jarak yang cukup jauh. Walaupun begitu, saya tetap semangat mengajar agar siswa bisa mendapatkan ilmu,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya, Azis juga membonceng putri sulungnya yang bersekolah di tempat yang sama.

PilihTak Gunakan JakLingko

Meski tersedia transportasi umum seperti JakLingko, Azis memilih tetap bersepeda karena rute transportasi dinilai tidak efisien.

“Kalau naik JakLingko harus transit sampai tiga kali, jadi lebih lama. Naik sepeda lebih langsung,” jelasnya.

Namun, keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Ia harus melewati jalan besar yang dipadati kendaraan berat seperti truk kontainer.

“Kadang ada rasa takut, khawatir tersenggol kendaraan besar. Tapi tetap dijalani,” tuturnya.

Selain itu, medan jalan yang menanjak juga menjadi tantangan tersendiri hingga ia harus turun dan menuntun sepeda.