Debu Proyek Reklamasi PT KCN Hantui Warga Cilincing, Warga Soroti Dampak Kesehatan
HAIJAKARTA.ID – Aktivitas pembangunan reklamasi di kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, yang dikerjakan PT Karya Cipta Nusantara (KCN), kembali dikeluhkan warga. Debu dari aktivitas pembangunan disebut masuk ke area permukiman dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi itu terekam dalam video dan diunggah akun instagram @cilincinginfo. Dalam video tersebut, tampak debu bertebaran dari lokasi proyek reklamasi yang berada di seberang pemukiman, Sejumlah truk pengangkut pasir juga terlihat hilir mudik di area tanah urukan di atas laut.
Warga Cilincing Keluhkan Debu Reklamasi
Keluhan warga sebelumnya juga disampaikan melalui video yang beredar di akun Instagram @ilhamapriyanto pada Selasa, 15 September 2026.
Dalam video tersebut, seorang warga mengaku debu menempel pada perabotan, pakaian hingga tubuh. Kondisi itu disebut membuat mata terasa perih dan kulit gatal.
“Di rumah saya udah berapa kali disapu juga tetap aja. Mata sampai perih, di baju pada nempel, pada gatel. Perabotan udah pada hitam semua,” ujar warga tersebut.
Warga lainnya juga mengeluhkan gangguan kesehatan seperti batuk dan pilek. Ia turut menunjukkan bagian kulit yang disebut mengalami iritasi.
Keluhan tersebut muncul di tengah informasi mengenai rencana penyaluran bantuan sembako dan upaya mitigasi dari PT KCN terkait dampak aktivitas pembangunan. Namun, berdasarkan keterangan dalam video, bantuan sembako tersebut disebut masih sebatas wacana.
Warga meminta penanganan dampak pembangunan tidak hanya dilakukan melalui pemberian bantuan kebutuhan pokok. Mereka mendorong adanya langkah konkret untuk mengendalikan debu serta layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.
“Kalau ada masalah lingkungan, masyarakat ujung-ujung dikasih sembako, kayak dibarter antara polusi dan sembako. Harusnya layanan kesehatan dan penanganan debu secara maksimal agar tidak berdampak ke masyarakat,” ujar warga.
Dikutip dari Kompas.com, salah seorang warga lain, Kiki Yaminah, mengatakan debu masih menempel di rumahnya meski telah beberapa kali dibersihkan.
“Ya debunya ini banget, banyak. Rumah saya aja udah pada berapa kali disapu juga tetap aja,” ujar Kiki kepada Kompas.com, Selasa (15/9/2026).
Kiki juga mengaku mengalami mata perih dan gatal-gatal setelah debu menyelimuti kawasan permukiman. Menurutnya, debu bahkan menempel pada pakaian warga.
Ia menyebut kondisi tersebut juga dapat memperburuk gangguan pernapasan bagi warga yang memiliki penyakit tertentu.
Kiki mengaku kecewa dengan kondisi tersebut dan mempertimbangkan untuk melakukan demonstrasi kepada pihak pelaksana proyek.
“Maunya saya mah saya demo ke sana. Yang enak mah dia, yang kena dampaknya kita warga. Dia yang kaya, kita yang susah,” katanya.

