Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kepemilikan rumah di Jakarta semakin menjadi tantangan besar bagi generasi muda.

Lonjakan harga tanah, keterbatasan lahan, serta tingginya kebutuhan hunian membuat banyak anak muda harus menghadapi kenyataan bahwa memiliki rumah di ibu kota tidak semudah yang dibayangkan.

Persoalan tersebut mengemuka dalam diskusi mengenai masa depan hunian perkotaan yang digelar menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

Dalam forum tersebut, berbagai pihak menyoroti kondisi perumahan Jakarta yang masih menghadapi tantangan serius.

Berdasarkan data yang dipaparkan, kebutuhan rumah di Jakarta masih sangat tinggi dengan backlog atau kekurangan pasokan hunian yang mencapai sekitar 1,19 juta unit.

Jakarta Masih Menjadi Magnet Pendatang

Manager Urban Planning Accelerator C40 sekaligus perwakilan World Resources Institute (WRI) Indonesia, Bella Shintya Ariyani, mengatakan Jakarta hingga kini tetap menjadi tujuan utama masyarakat dari berbagai daerah yang mencari peluang ekonomi lebih baik.

Menurutnya, daya tarik Jakarta sebagai pusat pemerintahan, bisnis, dan ekonomi nasional membuat arus urbanisasi terus berlangsung dari tahun ke tahun.

Banyak masyarakat datang ke Jakarta dengan harapan memperoleh pekerjaan, pendapatan yang lebih tinggi, dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan daerah asal mereka.

Namun, di balik peluang tersebut, persoalan ketersediaan dan keterjangkauan hunian menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.

“Jakarta masih menjadi tujuan banyak orang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun ketika datang ke kota ini, persoalan tempat tinggal menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi,” ujarnya.

Bukan Kekurangan Rumah, Tetapi Tata Ruang yang Belum Optimal

Bella menilai persoalan perumahan di Jakarta tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya jumlah rumah yang tersedia.

Menurutnya, masalah yang lebih mendasar adalah bagaimana ruang kota dimanfaatkan dan ditata secara efisien.

Saat ini, sekitar 70 persen kawasan permukiman Jakarta masih didominasi hunian tapak dengan kepadatan rendah.

Di sisi lain, sejumlah wilayah mengalami kepadatan penduduk yang tinggi namun belum diikuti peningkatan kualitas lingkungan maupun infrastruktur yang memadai.

Kondisi tersebut menyebabkan penyebaran kota semakin luas, kemacetan meningkat, serta waktu perjalanan masyarakat menjadi lebih panjang.

Hasil kajian yang dilakukan berbagai lembaga menunjukkan Jakarta sebenarnya masih memiliki kapasitas untuk menampung lebih banyak penduduk apabila pengelolaan ruang dilakukan secara lebih efektif dan terencana.

Belajar dari Singapura dan Shanghai

Dalam paparannya, Bella menyebut sejumlah kota besar dunia seperti Singapura dan Shanghai berhasil mengelola kebutuhan hunian melalui perencanaan kota yang lebih terintegrasi.

Dengan pola kepadatan yang lebih tertata, penggunaan lahan di kota-kota tersebut dapat dilakukan secara lebih efisien tanpa harus terus melakukan ekspansi wilayah secara horizontal.

Model pembangunan seperti ini dinilai dapat menjadi referensi bagi Jakarta yang saat ini menghadapi keterbatasan lahan sekaligus tingginya kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat.

Konsep Missing Middle Housing Jadi Alternatif

Sebagai salah satu solusi, Bella memperkenalkan konsep missing middle housing, yaitu model hunian vertikal berlantai rendah yang berada di antara rumah tapak dan apartemen bertingkat tinggi.

Menurutnya, pilihan hunian masyarakat saat ini cenderung terbatas pada dua opsi utama. Pertama, rumah tapak yang semakin sulit dijangkau karena harga tanah yang terus meningkat.

Kedua, apartemen bertingkat tinggi yang sering kali masih dianggap mahal oleh sebagian masyarakat, khususnya generasi muda.

Konsep missing middle housing menawarkan alternatif berupa bangunan hunian dengan skala menengah yang tetap mampu menampung banyak penghuni namun memiliki biaya pembangunan dan harga jual yang relatif lebih terjangkau.

Tantangan Kepemilikan Rumah bagi Generasi Muda

Kenaikan harga tanah yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor utama yang membuat akses kepemilikan rumah semakin sulit bagi kelompok usia produktif.

Selain harga rumah yang terus meningkat, generasi muda juga menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya hidup, kebutuhan transportasi, hingga persyaratan pembiayaan kredit yang tidak selalu mudah dipenuhi.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar masyarakat usia muda mulai mempertimbangkan alternatif hunian lain seperti rumah susun, apartemen bersubsidi, hingga hunian sewa jangka panjang yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan transportasi publik.

Perlu Dukungan Kebijakan Pemerintah

Para pengamat menilai penyelesaian persoalan hunian di Jakarta memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat.

Pemerintah dinilai perlu mempercepat pembangunan hunian terjangkau, memperluas akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah, serta mengoptimalkan pengembangan kawasan berbasis transportasi massal atau transit oriented development (TOD).

Dengan langkah tersebut, peluang generasi muda untuk memiliki tempat tinggal yang layak di Jakarta diharapkan tetap terbuka meskipun harga tanah terus mengalami kenaikan.