Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Hotline pengemudi Transjakarta resmi diluncurkan sebagai kanal komunikasi khusus untuk melaporkan kondisi darurat, kendala operasional, hingga isu keselamatan di lapangan secara cepat. Fasilitas ini disiapkan guna mempercepat respons manajemen terhadap berbagai situasi yang terjadi di lintasan.

PT Transportasi Jakarta menegaskan langkah ini merupakan bagian dari penguatan sistem keselamatan operasional, mengingat tingginya mobilitas layanan yang dijalankan setiap hari.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza mengatakan kanal tersebut diharapkan menjadi sarana dukungan bagi para pramudi yang bertugas di garis depan pelayanan.

“Hadirnya hotline ini diharapkan mampu memberikan rasa aman dan dukungan penuh bagi pramudi saat bertugas di garda terdepan,” kata Welfizon dikutip dari Antara, Jumat, (27/2/2026).

Percepat Respons dan Perkuat Budaya Keselamatan

Menurut Welfizon, dengan capaian 413 juta pelanggan sepanjang 2025, perusahaan memikul tanggung jawab besar sebagai ekosistem transportasi publik terbesar di Indonesia.

Oleh sebab itu, aspek keselamatan tidak hanya dipandang sebagai target operasional, melainkan bagian dari nilai dan budaya serta tanggung jawab kepada masyarakat.

“Setiap insiden tidak boleh berhenti sebagai statistik, ia harus menjadi pemicu perbaikan proses dan penguatan standar yang menyentuh akar permasalahan,” ucap Welfizon.

Ia menilai setiap kejadian di lapangan harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh guna memperkuat standar operasional dan mencegah peristiwa serupa terulang.

Pemengemudi Diminta Utamakan Kejujuran

Welfizon menekankan bahwa pengemudi merupakan pengambil keputusan utama saat bertugas di lapangan. Karena itu, ia mengajak pengemmudi armada Transjakarta untuk memperioritaskan kejujuran dalam bekerja yang menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan layanan.

“Jujur terhadap kondisi fisik, kondisi kendaraan, hingga pelaporan potensi bahaya,” ungkap Welfizon.

Melalui penyediaan kanal komunikasi khusus ini, manajemen berharap proses pelaporan menjadi lebih cepat dan transparan, sehingga penanganan situasi darurat maupun potensi risiko dapat dilakukan secara responsif dan terukur.