Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Sebuah video memperlihatkan perjuangan evakuasi seorang ibu hamil melalui jalur ekstrem di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Video berdurasi sekitar 1 menit 29 detik itu menunjukkan seorang ibu hamil tua ditandu menggunakan sarung yang diikat pada bambu, lalu dipikul oleh warga melewati bukit curam dengan kemiringan mencapai 80 derajat.

Ibu Hamil Asal Sumenep Ditandu Saat Hendak Melahirkan

Dalam video tersebut, tampak dua orang memikul tandu dari samping, sementara satu orang lainnya berjalan jongkok untuk menahan kaki korban agar tidak terbentur tangga.

Jalur yang dilalui sangat terjal dengan ketinggian bukit sekitar 100 meter.

Pegangan di sisi tangga terlihat sederhana, sehingga evakuasi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Keluarga dan warga sekitar juga terlihat berjalan di belakang untuk membantu menjaga keselamatan ibu hamil tersebut.

Identitas Ibu Hamil

Diketahui, peristiwa ibu hamil asal Sumenep ditandu saat hendak melahirkan itu terjadi pada Rabu (15/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Ibu hamil tersebut bernama Irayatun Nasirah (25), warga Dusun Barat, Desa Tembayangan, Kecamatan Kangayan.

Sekretaris Desa Tembayangan, Samdani, membenarkan kejadian tersebut dan mengaku berada di lokasi saat proses evakuasi berlangsung.

“Itu sedang hendak melahirkan anak pertama dan sudah tidak kuat menahan rasa sakit,” ujar Samdani.

Sebelumnya, Ira sapaan akrab Irayatun sempat menjalani perawatan di puskesmas pembantu (pustu) desa selama dua hari.

Namun, karena kondisi tidak membaik, keluarga akhirnya memutuskan untuk merujuknya ke rumah sakit.

“Dirujuk ke RS Abuya dan di sana langsung dilakukan operasi caesar,” kata Samdani.

Setelah berhasil melewati bukit, ibu hamil tersebut kemudian dibawa menggunakan mobil pikap menuju fasilitas kesehatan.

Akses Jalan Jadi Kendala Utama

Peristiwa ini menyoroti keterbatasan infrastruktur di wilayah tersebut.

Bukit setinggi 100 meter itu menjadi satu-satunya akses warga menuju fasilitas kesehatan maupun pusat kecamatan.

“Jalan utama desa tidak bisa dilalui kendaraan, bahkan sepeda motor sekalipun,” ujar Samdani.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi jalan tersebut belum pernah mendapat perbaikan hingga saat ini.

Karena keterbatasan akses, warga terpaksa menggunakan cara manual seperti ditandu untuk membawa pasien dalam kondisi darurat.

“Kalau ada warga sakit, mau tidak mau harus ditandu melewati bukit itu,” kata Samdani.