Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Warung tegal (warteg) di Jakarta menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga bahan pangan yang terus terjadi. Di tengah kondisi tersebut, banyak pedagang memilih memangkas menu andalan dibandingkan menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.

Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (KOWANTARA) Mukroni mengatakan pedagang warteg kini berada dalam posisi sulit. Harga bahan baku terus meningkat, sementara kemampuan belanja pelanggan tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Menurutnya, mayoritas pelanggan warteg berasal dari kalangan pekerja dan mahasiswa yang umumnya hanya memiliki anggaran sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk sekali makan.

“Kalau harga dinaikkan, pelanggan bisa berkurang. Jadi banyak pedagang memilih mengurangi menu yang dijual,” kata Mukroni.

Rawon hingga Opor Ayam Menghilang dari Warteg

Sebagai langkah bertahan, sejumlah warteg mulai meghilangkan beberapa menu yang membuthkan biaya produksi lebih tinggi. Menu seperti rawon, terong balado, hingga opor ayam perlahan tidak lagi tersedia di beberapa warung makan.

Mukroni menyebut keputusan tersebut menjadi pilihan paling berat yang harus diambil pedagang untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah meningkatnya biaya operasional.

Langkah ini menunjukkan bagaimana usaha kuliner skala kecil berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang semakin menantang tanpa harus membebankan seluruh kenaikan biaya kepada pelanggan.

Pelanggan Menurun

Tak hanya biaya bahan baku yang menaik, sejumlah pedagang juga mengeluhkan penurunan jumlah pelanggan.

Ayu (50) pemilik warteg di Rawabadak Utara, Koja, Jakarta Utara, mengaku warungnya kini jauh lebih sepi dibanding biasanya.

“Sekarang mah lagi sepi. Lagi kurang ramai sekarang mah,” katanya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Dian (45), pemilik rumah makan di Kebon Bawang, tanjung Priok. Ia mengungkapkan biaya belanja harian yang sebelumnya sekitar Rp 100.000 kini bisa mencapai Rp 200.000.

Di sisi lain, pendapatan usahanya justru mengalami penurunan.

“Pendapatan juga kan biasa minimal itu misalkan dapatnya Rp 2 juta, bisa dapatnya cuma Rp 1,5 juta,” kata Dian.

Meski demikian, ia tetap memilih tidak menaikkan harga makanan.

“Kalau mahal nanti enggak ada pelanggan,” ungkapnya.

Kondisi Sekarang Lebih Berat dari Masa Pandemi

Lina (37) pengelola Warteg Gria Bahari di Pamulang, menilai kondisi saat ini bahkan lebih berat dibandingkan saat pandemi Covid-19.

Menurutnya, jumlah pelanggan di warungnya turuh hingga 50 persen. Ia melihat perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini semakin menghemat pengeluaran.

“Saya bandingkan, jujur masih mending zaman Covid. Pas social distancing orang masih butuh makan dan daya beli masih kuat. Kalau sekarang benar-benar berat, orang mau makan saja sudah susah,” kata Lina.

Ia menuturkan dua hingga tiga tahun lalu pelanggan masih mampu membeli beberapa lauk sekaligus. Namun kini banyak pelanggan hanya membeli makan seperlunya.

“Sekarang tuh orang makan mungkin satu hari sekali,” katanya.

Banyak Pedagang Kecil Mulai Menyerah

Lina juga mengaku melihay semakin banyak pelaku usaha kecil di sekitar tempat usahanya uang memilih tutup usaha dan kembali ke kampung halaman karena tidak sanggup menanggung biaya operasional.

Pedagang pecel ayam hingga penjual soto disebut mulai gulung tikar akibat modal usaha yang habis untuk menutupi biaya belanja harian dan kontrak tempat usaha.

“Mereka sudah tidak kuat bayar perpanjangan kontrak karena modalnya habis untuk nombok belanja,” kata Lina.

KOWANTARA Harap Harga Pangan Stabil

KOWANTARA berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan harga pangan agar pelaku usaha kuliner rakyat tetap bisa bertahan.

Menurut mereka, stabilisasi harga bahan baku menjadi faktor penting agar warteg tetap mampu menyediakan menu yang beragam dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Kondisi yang dialami warteg saat ini dinilai menjadi gambaran nyata tekanan yang sedang dihadapi usaha mikro di sektor kuliner, terutama yang menyasar konsumen dengan anggaran terbatas.

Jika harga pangan terus meningkat sementara daya beli masyarakat belumpulih, ruang gerak pelaku usaha kecil diperkirakan akan semakin sempit.