Jakarta Terasa Makin Panas, BMKG Ungkap Penyebabnya: Kemarau hingga Efek Urban Heat Island
HAIJAKARTA.ID- Suhu udara di Jakarta belakangan ini terasa semakin terik dan menyengat, terutama saat siang hari.
Kondisi tersebut membuat aktivitas di luar ruangan terasa kurang nyaman, terlebih bagi warga yang harus beraktivitas di jalan, menggunakan transportasi umum, maupun bekerja di bawah paparan sinar matahari langsung.
Cuaca panas yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan tingginya intensitas sinar matahari.
Sejumlah faktor meteorologis dan karakteristik lingkungan perkotaan turut memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari berkurangnya curah hujan selama musim kemarau hingga fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Pada Rabu (14/10/2026), Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa kondisi kemarau dan langit yang relatif cerah membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih maksimal.
Ketika tutupan awan berkurang, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa.
Akibatnya, permukaan jalan, bangunan, dan kawasan perkotaan menerima lebih banyak energi matahari sehingga suhu di lingkungan sekitar terasa semakin panas.
Kemarau dan El Niño Memperkuat Kondisi Panas
Kondisi cuaca panas juga berkaitan dengan musim kemarau yang masih memengaruhi sejumlah wilayah Indonesia.
Berkurangnya curah hujan membuat permukaan bumi lebih lama terpapar sinar matahari, sementara kondisi atmosfer yang relatif kering turut mendukung peningkatan suhu pada siang hari.
BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa fenomena El Niño pada 2026 berpotensi memperpanjang kondisi kering di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam keterangannya pada 22 September 2026, BMKG menyebut El Niño dengan intensitas sangat kuat, yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD), dapat mengurangi curah hujan dan menyebabkan awal musim hujan di banyak wilayah mengalami kemunduran.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami cuaca panas belakangan ini.
Meski demikian, kondisi cuaca di setiap daerah dapat berbeda, sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan cuaca berdasarkan wilayah masing-masing.
Urban Heat Island Membuat Jakarta Lebih Gerah
Selain faktor cuaca, karakteristik Jakarta sebagai kota metropolitan juga berpengaruh terhadap panas yang dirasakan masyarakat.
Fenomena urban heat island terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya yang lebih banyak ditumbuhi vegetasi.
Aspal jalan, beton, gedung bertingkat, serta berbagai permukaan buatan dapat menyerap dan menyimpan panas matahari.
Panas tersebut kemudian dilepaskan kembali ke lingkungan, sehingga kawasan padat bangunan dapat tetap terasa gerah meskipun intensitas sinar matahari mulai berkurang.
Minimnya ruang terbuka hijau di sejumlah kawasan juga dapat memperburuk kondisi tersebut.
Pepohonan berperan memberikan keteduhan dan membantu mendinginkan lingkungan melalui proses evapotranspirasi, yaitu pelepasan uap air dari tanah dan tumbuhan ke atmosfer.
Di kawasan yang didominasi bangunan dan permukaan beraspal, efek pendinginan alami tersebut cenderung lebih terbatas.
Akibatnya, panas dapat bertahan lebih lama dan membuat suhu lingkungan terasa kurang nyaman, termasuk pada sore hingga malam hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa panas di Jakarta tidak semata-mata ditentukan oleh angka suhu udara yang tercatat pada alat pengukur.
Paparan sinar matahari langsung, kondisi kelembapan, serta karakteristik lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi tingkat kenyamanan termal yang dirasakan masyarakat.
Bagaimana dengan Fenomena Hari Tanpa Bayangan?
Fenomena astronomi yang dikenal sebagai kulminasi utama atau Hari Tanpa Bayangan juga kerap dikaitkan dengan kondisi panas di wilayah Indonesia.
Menurut penjelasan BMKG, kulminasi utama terjadi ketika Matahari mencapai posisi tertinggi di langit dan berada tepat di atas kepala pengamat atau di titik zenit.
Pada saat itu, bayangan benda tegak dapat terlihat sangat pendek atau seolah-olah menghilang.
Namun, fenomena ini perlu dipahami secara tepat. Hari Tanpa Bayangan merupakan peristiwa astronomi yang waktunya bergantung pada lokasi dan tanggal.
Fenomena tersebut tidak secara otomatis menjadi penyebab utama cuaca panas yang berlangsung selama berhari-hari.
Cuaca panas yang dirasakan warga Jakarta perlu dilihat melalui kombinasi berbagai faktor, terutama kondisi atmosfer, tutupan awan, curah hujan, intensitas penyinaran matahari, dan pengaruh lingkungan perkotaan.
Kapan Cuaca Panas Jakarta Akan Mereda?
Masyarakat juga perlu memperhatikan perkembangan prakiraan musim hujan. Dalam prediksi musim hujan 2026/2027 yang dirilis pada 2 Oktober 2026, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.
Namun, waktu awal musim hujan berbeda-beda di setiap wilayah dan berpotensi mengalami kemunduran.
Dengan demikian, belum dapat dipastikan bahwa cuaca panas di seluruh wilayah Jakarta akan mereda pada tanggal tertentu.
Perubahan kondisi cuaca sangat bergantung pada perkembangan atmosfer dan hujan di wilayah setempat.
Warga disarankan memantau informasi cuaca terbaru melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, maupun kanal informasi pemerintah terkait.
Langkah ini penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang sedang berlangsung.
