Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pengalamannya saat berbincang dengan sejumlah pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku sempat berkelakar dengan menyebut dirinya sebagai “menteri keuangan paling tidak beruntung di dunia” karena harus menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan politik sejak awal menjabat.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya sebagai gambaran mengenai beratnya kondisi yang dihadapi pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.

Meski disampaikan dengan nada bercanda, ia menegaskan bahwa berbagai tekanan tersebut merupakan tantangan nyata yang harus direspons melalui kebijakan ekonomi yang tepat.

Sejak Awal Menjabat Langsung Dihadapkan Berbagai Tekanan

Purbaya menjelaskan bahwa dirinya mulai memimpin Kementerian Keuangan ketika situasi ekonomi sedang menghadapi berbagai gejolak.

Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi kondisi global.

Beberapa faktor yang disebut menjadi tekanan antara lain aksi demonstrasi yang terjadi di dalam negeri, gejolak pasar keuangan akibat isu terkait indeks MSCI, sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings dan Moody’s, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu konflik Iran.

Menurutnya, seluruh faktor tersebut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan, nilai tukar, hingga kepercayaan investor. Karena itu, pemerintah harus bergerak cepat dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah Klaim Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Purbaya menilai pemerintah mampu menjaga kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil.

Ia mengatakan koordinasi antara kebijakan fiskal yang dijalankan Kementerian Keuangan dan kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi.

Ia juga menyoroti bahwa berbagai indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif baik dibandingkan banyak negara lain yang juga menghadapi tekanan global.

Menurutnya, fundamental ekonomi nasional tetap cukup kuat sehingga mampu meredam dampak gejolak internasional.

Pertumbuhan Ekonomi Diakui Belum Sesuai Target

Meski optimistis terhadap prospek ekonomi nasional, Purbaya mengakui bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya memenuhi target pemerintah.

Namun demikian, ia meyakini laju pertumbuhan ekonomi akan meningkat pada kuartal-kuartal berikutnya.

Pemerintah berharap berbagai program investasi, konsumsi masyarakat, serta belanja negara dapat menjadi pendorong percepatan pertumbuhan sehingga mendekati angka 6 persen apabila kondisi global tetap kondusif.

Tantangan Global Masih Membayangi

Pemerintah juga mengakui bahwa perekonomian dunia masih menghadapi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan ekonomi di sejumlah negara, volatilitas pasar keuangan global, hingga ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral dunia.

Karena itu, pemerintah menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, menjaga disiplin pengelolaan APBN, serta mendorong investasi dan konsumsi domestik agar daya tahan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Sejumlah lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, serta lembaga pemeringkat global juga terus memantau perkembangan ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian.