sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Rupiah melemah lagi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026.

Pelemahan mata uang Garuda membuat sejumlah bank di Indonesia menaikkan kurs jual dolar AS hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing pada pagi hari, rupiah dibuka melemah di kisaran Rp17.730 per dolar AS.

Kondisi tersebut melanjutkan tren tekanan yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir di tengah sentimen global dan meningkatnya permintaan dolar AS.

Kenaikan kurs dolar terlihat jelas di berbagai bank nasional maupun bank asing yang beroperasi di Indonesia.

Beberapa bank bahkan sudah mematok kurs jual di atas Rp17.900, sementara ada yang telah menembus level Rp18.000 khususnya untuk transaksi banknotes atau uang tunai.

Kurs Dolar AS di Sejumlah Bank

1. BCA

Bank Central Asia menetapkan kurs e-rate dengan harga beli sekitar Rp17.690 dan kurs jual Rp17.710. Sementara untuk transaksi counter dan bank notes, kurs jual mencapai Rp17.790 per dolar AS.

2. Bank Mandiri

Bank Mandiri menetapkan special rate dengan kurs jual sekitar Rp17.780. Sedangkan transaksi TT counter dan bank notes dipatok hingga Rp17.800 per dolar AS.

3. BNI

Bank Negara Indonesia mencatat kurs jual special rate sekitar Rp17.705. Untuk transaksi TT counter dan bank notes, kurs jual berada di level Rp17.790.

4. BRI

Bank Rakyat Indonesia juga menyesuaikan kurs dolar AS. Kurs jual e-rate berada di kisaran Rp17.715, sementara TT counter mencapai Rp17.815 per dolar AS.

5. UOB Indonesia

UOB Indonesia menjadi salah satu bank dengan kurs jual tertinggi pada pagi hari, yakni mencapai sekitar Rp17.962 per dolar AS.

6. CIMB Niaga

CIMB Niaga menetapkan kurs jual valas di kisaran Rp17.725. Perbedaan nilai terlihat pada layanan converter yang disesuaikan dengan jenis transaksi nasabah.

7. HSBC Indonesia

HSBC Indonesia menetapkan transfer rate jual hingga Rp17.970. Bahkan untuk transaksi banknotes, kurs jual dolar AS sudah menembus Rp18.045 per dolar AS.

8. MUFG Bank Jakarta Branch

MUFG Bank mencatat kurs telegraphic transfer selling (TTS) mencapai Rp17.990 per dolar AS.

Penyebab Rupiah Terus Melemah

Pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal maupun domestik. Penguatan dolar AS secara global masih menjadi sentimen utama setelah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan impor dan arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang turut menambah tekanan terhadap rupiah.

Pelaku pasar juga mencermati kondisi geopolitik global serta stabilitas fiskal domestik yang memengaruhi pergerakan mata uang.

Analis pasar menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila sentimen global belum mereda.

Namun, intervensi pemerintah dan otoritas moneter melalui pasar obligasi maupun stabilisasi valuta asing diharapkan mampu menahan pelemahan lebih dalam.

Dampak ke Masyarakat dan Dunia Usaha

Melemahnya rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, barang elektronik, hingga kebutuhan industri lainnya.

Kondisi ini juga dapat memengaruhi harga barang konsumsi di dalam negeri apabila pelemahan berlangsung dalam jangka panjang.

Bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dolar AS, seperti biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, maupun pembayaran impor usaha, kenaikan kurs jual dolar tentu membuat pengeluaran menjadi lebih besar.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Pemerintah dan Bank Indonesia Diminta Waspada

Pengamat ekonomi meminta pemerintah bersama Bank Indonesia terus menjaga stabilitas pasar keuangan dan memperkuat kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.

Langkah stabilisasi nilai tukar dinilai penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali serta memastikan aktivitas ekonomi nasional tidak terganggu akibat volatilitas mata uang yang tinggi.

Sementara itu, pelaku pasar masih menantikan respons lanjutan otoritas keuangan dalam menjaga kestabilan rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.