Videografer Dituduh Mark Up Harga Video Profil Desa Terancam 2 Tahun Penjara, Netizen: Keahlian itu Mahal Pak
HAIJAKARTA.ID – Kasus videografer dituduh mark up harga video profil desa mencuat setelah seorang profesional bernama Amsal Christy Sitepu dituntut hukuman pidana oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Ia dituntut dua tahun penjara, denda Rp50 juta, serta diwajibkan mengembalikan kerugian negara sebesar Rp202 juta.
Kasus ini berkaitan dengan dugaan penggelembungan anggaran dalam pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo untuk periode 2020 hingga 2022.
Videografer Dituduh Mark Up Harga Video Profil Desa
Dalam dakwaan, Amsal disebut telah memperkaya diri sendiri melalui proyek pembuatan video profil desa.
Tuduhan tersebut merujuk pada hasil audit perhitungan kerugian keuangan negara yang dilakukan pada 19 November 2025.
Jaksa menyampaikan bahwa terdapat indikasi mark up dalam sejumlah komponen produksi video.
Dalam persidangan, jaksa menjelaskan bahwa biaya yang dibebankan mencakup ide kreatif, penggunaan clip on, proses cutting, editing, hingga dubbing.
Menurut pihak penuntut, komponen tersebut seharusnya tidak dikenakan biaya tambahan.
“Jaksa menilai biaya untuk ide, clip on, proses editing hingga dubbing semestinya tidak perlu dibebankan,” demikian pernyataan yang disampaikan di persidangan.
Kasus Videografer Dituduh Mark Up Harga Video Profil Desa ini bermula dari proyek yang dikerjakan Amsal sejak 2020. Ia diketahui telah menyelesaikan video profil untuk:
- 10 desa pada tahun 2020
- 8 desa pada tahun 2021
- 2 desa pada tahun 2022
Setiap video dihargai sebesar Rp30 juta. Anggaran tersebut telah disepakati oleh masing-masing kepala desa dan dibayarkan setelah pekerjaan rampung.
Dalam persidangan, sebanyak 20 kepala desa dihadirkan sebagai saksi. Mereka kompak memberikan keterangan yang meringankan terdakwa.
Para saksi mengaku tidak merasa dirugikan atas proyek tersebut dan justru mempertanyakan proses hukum yang menjerat Amsal. Mereka menilai pekerjaan yang dilakukan sudah sesuai dengan kesepakatan awal.
Seorang saksi bahkan menyebut bahwa mereka heran mengapa kasus ini sampai berlanjut ke meja hijau.
Hingga saat ini, kasus Videografer Dituduh Mark Up Harga Video Profil Desa masih dalam proses persidangan. Putusan akhir akan menjadi penentu apakah Amsal terbukti bersalah atau tidak dalam dugaan korupsi tersebut.
Kasus ini sekaligus menjadi perhatian publik terkait bagaimana nilai pekerjaan kreatif dinilai dalam proyek pemerintah.
Reaksi Publik
Kasus ini juga memicu reaksi luas dari masyarakat, khususnya di media sosial.
“Bagaimana jika Bapak JPU kerjakan sendiri proyeknya biar tahu bagaimana ribetnya menggabungkan video-video yang terpotong-potong,” kata @retnoqt*****
“Masak iya ada tertuduh ada prestasi?” tulis @bud*****
“Keahlian itu mahal Pak JPU,” ujar @dzulf*****

