Harga Pertamax Berpotensi Naik Akibat Gejolak Global, Pemerintah Pantau Pergerakan Minyak Dunia!
HAIJAKARTA.ID- Harga pertamax berpotensi naik akibat gejolak global seiring harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM sangat bergantung pada dinamika pasar global.
Jika tren kenaikan harga minyak mentah terus berlanjut, maka penyesuaian harga Pertamax berpeluang dilakukan.
“Kalau harga minyak turun, tentu tidak ada kenaikan. Tapi kalau kondisi seperti sekarang terus berlangsung, maka kemungkinan penyesuaian harga akan dilakukan,” ujar Bahlil saat memberikan keterangan di Jakarta, Senin (20/4/2026).
BBM Nonsubsidi Mengacu Harga Pasar
Bahlil menegaskan bahwa BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar.
Penentuan harga telah diatur dalam regulasi pemerintah, yang mempertimbangkan berbagai faktor seperti harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi.
Aturan tersebut tertuang dalam kebijakan Kementerian ESDM yang menjadi dasar perhitungan harga jual eceran BBM.
Dengan demikian, produk seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex akan menyesuaikan harga secara berkala mengikuti kondisi pasar energi global.
Sebagai tahap awal, penyesuaian harga telah dilakukan pada sejumlah BBM nonsubsidi.
Kenaikan ini terjadi di tengah melonjaknya harga energi dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan di Iran.
Harga BBM Nonsubsidi Sudah Naik Lebih Dulu
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi sejak 18 April 2026. Kenaikan tersebut cukup signifikan, antara lain:
- Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter
- Dexlite menjadi Rp23.600 per liter
- Pertamina Dex menjadi Rp23.900 per liter
Sementara itu, harga Pertamax masih ditahan di level Rp12.300 per liter, dan Pertamax Green berada di Rp12.900 per liter.
Penahanan harga ini dinilai sebagai langkah sementara pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, meskipun tekanan dari harga minyak global terus meningkat.
BBM Subsidi Dijamin Tetap Stabil
Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
Bahlil menegaskan bahwa negara memiliki kewenangan penuh untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.
Ia menjelaskan bahwa selama rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) masih berada di bawah 100 dolar AS per barel, maka harga BBM subsidi akan tetap dipertahankan.
Saat ini, rata-rata ICP Indonesia sejak awal tahun hingga April 2026 masih berada di kisaran 76 dolar AS per barel, sehingga pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga harga tetap stabil.
Pemerintah Imbau Masyarakat Tidak Beralih ke BBM Subsidi
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak beralih dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi hanya karena adanya potensi kenaikan harga.
Menurut Bahlil, BBM subsidi diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak, sehingga penggunaannya harus tepat sasaran.
Ia menilai bahwa peralihan tersebut dapat mengganggu distribusi subsidi dan berpotensi merugikan kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Harga Energi Global Masih Bergejolak
Kenaikan harga BBM di dalam negeri tidak terlepas dari kondisi global yang masih tidak stabil.
Konflik di Timur Tengah, khususnya di wilayah Iran dan sekitarnya, turut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Situasi ini membuat banyak negara, termasuk Indonesia, harus menyesuaikan kebijakan energi untuk menjaga keseimbangan antara harga, subsidi, dan daya beli masyarakat.
Dengan kondisi harga minyak dunia yang masih berfluktuasi, peluang kenaikan harga Pertamax tetap terbuka.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebijakan akan diambil secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, harga BBM subsidi tetap menjadi prioritas untuk dijaga stabil guna melindungi kelompok masyarakat yang membutuhkan.

